Minggu, 03 Januari 2016

Keracunan ASI dan Es Krim, Mungkinkah?


Sebagai ordinary mom, selalu saja ada hal-hal ajaib ketika membersamai buah hati. Berikut ini salah satu keunikan yang saya alami bersama Si Kecil, Zidna. Termasuk keracunan.
Nah, Bunda, selamat membaca...


Keracunan




            “Keracunan ASI?”
            Mataku dan suamiku saling tatap tak percaya. Kemudian mata kami secara otomatis berpindah antara menatap dokter cantik yang ada di hadapan kami dan bayi mungil yang berada dalam pangkuanku. Bila saja yang kami hadapi bukanlah dokter langganan, pasti kami akan menolak mentah-mentah hasil diagnosanya.

            Alangkah sulit mempercayai diagnosa dokter yang mengatakan bahwa bayi kami mengalami keracunan yang disebabkan oleh ASI. Aku telah menyusui kakak-kakaknya, dan mereka baik-baik saja. Lantas apa sebab bayi terakhirku ini mengalami keracunan akibat meminum air susu yang dikeluarkan oleh ibu kandungnya sendiri?

            Aku ingin menolak kenyataan itu. Namun, warna kuning di tubuh bayiku tak bisa kuingkari. Warna kuning ini terjadi akibat penumpukan bilirubin pada dan membuat warna kuning di kulit bayiku kian bertambah pekat. Sebagai ibu dari beberapa orang anak yang beranjak remaja, aku tahu, warna kuning pada bayi bisa hilang dengan sendirinya. Asal bayi kerap disusui dan dijemur di tengah hangatnya mentari pagi. 

            Faktanya bayiku suka sekali menyusu dan air susuku berlimpah. Sementara untuk urusan menjemur bayi, dengan kesadaran seorang ibu, aku melakukannya setiap pagi. Lahir di tengah musim kemarau membuat cahaya berlimpah sepanjang hari. Aku tak kesulitan menjemurnya setiap pagi.

Namun, tubuhnya semakin kuning. Mau tak mau aku harus menerima pendapat dokter tersebut. Ditambah informasi yang kami peroleh via internet, bahwa dalam kondisi tertentu, ASI bisa menjadi racun bagi sang bayi. Dengan berat hati aku memutuskan mengikuti saran dokter, untuk menghentikan sementara pemberian ASI pada bayiku, hingga tubuhnya siap menerima ASI. Dan memberinya susu formula.

Perlahan-lahan kondisi bayiku membaik. Hingga beberapa minggu kemudian tubuhnya tidak lagi terlihat kuning. Yakin dengan kondisi tubuhnya, kemudian secara bertahap aku pun kembali memberinya ASI dan mengurangi pemberian susu formula.


Kejadian itu persis tiga tahun yang lalu.
Tadi malam, tepat di hari ulang tahunnya yang ketiga, Zidna kembali membuatku panik. Ia muntah-muntah dan buang air besar sepanjang malam. Aku berpikir ia terserang penyakit muntaber. Penyakit yang amat mudah merengut nyawa balita.

Tanpa membuang waktu kami membawanya ke dokter langganan. Dokter cantik itu pun kembali bertanya.

“Apa yang Zidna makan kemarin?”
“Biasa aja, Dok. Pagi dan siang makan nasi. Malamnya makan bubur seperti biasa.”
“Selain itu?” tanya Bu Dokter sambil terus memeriksa Zidna.
“Makan buah lengkeng. Eng..., dan es krim.”
“Es krim buatan sendiri atau beli?”
“Beli. Tapi kami membeli es krim bukan di tempat biasanya.”
“Ini yang kena pencernaannya, Bu. Kemungkinan es krim-lah penyebabnya.”
“Maksud Bu Dokter, Zidna keracunan es krim?” Aku menatap setengah tak percaya. Aku teringat, tadi malam aku lupa mencek tanggal expired es krim tersebut. Mungkinkah karena kecerobohanku itu? Duh...

“Itu yang paling mungkin. Selain itu, es krim yang sering mengalami penurunan suhu dan mencair akibat mati listrik yang lama, gampang menjadi rusak dan dimasuki bakteri dan kuman. Beberapa kasus yang saya tangani, anak-anak sering keracunan akibat makan es krim yang sudah tidak layak.” Ujar Bu Dokter sambil menulis resep.

Aku hanya bisa terdiam. Dan menatap Zidna yang tampak lemas dengan perasaan campur aduk. Antara takjub juga prihatin sekaligus cemas. Zidna, Zidna, keracunan kok sama hal yang tak lazim. Dulu keracunan ASI, sekarang keracunan es krim.

*
            Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi para bunda semua. Terima kasih sudah berkunjung.

9 komentar:

  1. Wah, baru tahu, makasih sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mak Wuri, terima kasih juga atas kunjungannya :)

      Hapus
  2. Skrg zidna usia brp mbak liza? Apakah masih sensitif dgn susu atau ea krim? Kalau kmrn itu aam ambil coklat dr lemari. Saya gak cekm taunya daluarsa 2 mingguan. Malamnya masih gak ada apa2. Tau2 dia muntah2 besok harinya. Duuuh ampe bingung. 2 hari muntah2.... alhamdulillah sehat juga akhirnya. Serem kalau anak keracunan yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zidna sekarang 3,6 th, Uni Dian. Udah enggak sensitif lagi kok. ASI juga akhirnya bisa sampai 2 tahun tapi campur sufor. dan masih doyan banget makan es krim. Cuma sekarang lebih hati-hati aja belinya.

      Hapus
  3. Skrg zidna usia brp mbak liza? Apakah masih sensitif dgn susu atau ea krim? Kalau kmrn itu aam ambil coklat dr lemari. Saya gak cekm taunya daluarsa 2 mingguan. Malamnya masih gak ada apa2. Tau2 dia muntah2 besok harinya. Duuuh ampe bingung. 2 hari muntah2.... alhamdulillah sehat juga akhirnya. Serem kalau anak keracunan yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, saya juga suka bingung banget kalo anak udah muntah-muntah. Apalagi ditambah BAB terus... takuuuuttt.
      Btw, trims udah mampir.

      Hapus
  4. Saya juga baru tahu, Mak. Yang bungsu suka sekali makan es krim. Jadi harus lebih hati-hati lagi nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya atuh.. harus hati-hati. Ternyata jajan sehat tetap mengandung risiko ya?
      Trims atak kunjungannya ya, Mak Afrida :)

      Hapus
  5. Ama pernah sekali keracunan es krim. Akhirnya saya pilih-pilih kalo mau beli sekarang

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^