Jumat, 29 Januari 2016

Kenakalan Remaja, Tanggung Jawab Siapa? .



Kenakalan Remaja, Tanggung Jawab Siapa?


Beberapa hari yang lalu, suami saya menyampaikan berita mengejutkan tentang pengeroyokan tiga anak remaja oleh gerombolan remaja bermotor. Kenakalan remaja ini  terjadi di  Jogging Track yang berlokasi di tengah-tengah perumahan kami.

Mengejutkan, karena peristiwa itu terjadi sekitar jam 19-21 malam. Pada saat itu jalan utama di depan Jogging Track biasanya cukup ramai oleh aktivitas jual beli. Begitu juga  lalu lintas kendaraan yang melewati jalur tersebut.


Mengherankan dan sekaligus mengkhawatirkan, ketika terjadi pemukulan terhadap korban, tidak ada yang mencoba melerai. Entah karena tidak terlihat karena tidak ada penerangan di sekitar lokasi. Entah karena tidak peduli. 

Kenyataannya para korban tersebut baru dilepas setelah pukul 9 malam dengan kondisi tubuh babak belur, dompet serta hape hilang dirampas. Ironisnya, yang menjadi korban adalah anak-anak yang tinggal di perumahan. (kebetulan murid les privat teman suami saya).

Dan tadi, ketika saya menceritakan ulang peristiwa di atas pada beberapa kenalan yang rumahnya tak jauh dari lokasi Jogging Track, saya mendapatkan tambahan cerita miris tentang kenakalan remaja ini.

 Kasusnya lagi-lagi pengeroyokan. Anak yang sedang berjalan seorang diri dikeroyok dan dihajar di Jogging Track. Siang hari, saat lalu lintas sepi.Beruntung ada ibu-ibu yang berteriak dan bapak-bapak yang berinisiatif melerai pengeroyokan tersebut.

Cerita lainnya yang cukup membuat bulu roma berdiri terjadi di perkampungan, tak jauh dari perumahan kami. 

Tawuran ini nyaris memakan korban jiwa karena pelaku menggunakan gir dan celurit. Bila tidak hentikan oleh orang dewasa yang berada di sekitar lokasi, bisa jadi anak berseragam itu tewas dihajar anak sekolah lain (pelaku menggunakan seragam sekolah)

Ada apa dengan remaja-remaja kita?

Pertanyaan ini kerap terlintas dalam pikiran. Kasus kenakalan remaja ditayangkan di televsi saja , sering membuat bulu roma berdiri.  Apa lagi bila terjadi di depan mata?

Peristiwa di atas mau tidak mau membuat saya cemas. Saya membayangkan, apa jadinya bila anak-anak saya yang menjadi korban – karena anak-anak saya kerap melintas di depan jalanan Jogging Track. Bahkan akhir-akhir ini mereka sering sering jogging setelah selesai sholat shubuh. Naudzubillah... Semoga Allah Swt melindungi mereka.

Pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah :



Akankah kenakalan remaja itu dibiarkan berlarut-larut?


Ya. Saya faham. Menurut bapak psikologi remaja Stanley Hall, masa remaja merupakan masa badai dan penuh tekanan (storm and stress age). Masa di mana mereka mengalami kebingungan. Bukan saja karena semakin bertambahnya tuntutan dari orangtua, melainkan juga perubahan-perubahan yang terjadi  pada diri mereka sendiri. Baik secara fisik maupun mental.

Saya pun mencoba memahami karakteristik remaja menurut Gunarsa, yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan bagi remaja, termasuk kenakalan remaja.
Yaitu :
1. Ketidakstabilan emosi
2. Canggung dalam pergaulan dan kaku dalam gerakan.
3. Adanya perasaan kosong karena mengalami kesenjangan antara pandangan/petunjuk hidup dengan realita.
4. Timbulnya sikap menentang dan menantang orangtua
5. Konflik yang terjadi dalam dirinya yang menjadi sumber konflik terhadap orangtua.
6. Kegelisahan karena menginginkan banyak hal, dan tidak memiliki kemampuan memenuhi semua keinginan tersebut.
7. Senang bereksperimen
8. Senang bereksplorasi
9. Mempunyai banyak fantasi dan khayalan yang tinggi
10. Kecenderungan untuk berkelompok dan melakukan kegiatan secara berkelompok.

Mom, karakteristik remaja menurut Gunarsa di atas memang sangat memungkinkan timbulnya tindak kenakalan yang menjurus ke arah kriminal. Kondisi ini, tentu  bukan untuk dijadikan sebagai pembenaran atas semua kenakalan tersebut.

Dalam batas-batas wajar, kenakalan itu tentu dapat diterima. Tetapi bila menjurus ke arah kriminal, mereka pun tentu harus belajar bertanggung jawab atas perbuatannya. Agar tidak terbiasa melakukan tindak kriminal.

Mom, mau tak mau,  kita tak bisa melepaskan diri dari urusan anak- anak remaja ini. Pun kita harus lebih peduli pada mereka. Jauh lebih peduli dari orangtua kita dahulu kepada kita. Karena persoalan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks. Semata-mata agar mereka mampu melewati tahap perkembangannya dengan baik. 

Dan menjadi tanggung jawab kita juga, untuk bergerak dan bereaksi secara tepat bila mana terjadi kenakalan remaja di depan kita.

Hentikan aksi brutal mereka agar mereka tak meneruskan perbuatan buruk mereka. Entah dengan teriakan. Entah dengan kemampuan dan kekuatan yang kita miliki. Bahkan melaporkan tindakan brutal tersebut pada pihak keamanan. Segala cara, agar perbuatan itu terhenti.

Ketidakpedulian kita pada kejadian yang ada di sekitar, kita hanya akan menyuburkan tindakan anarkis.  Dan tidak mengherankan, bila kelak mengarah pada tindakan krimal yang sukar disembuhkan.

Ketidak-pedulian kita hanya akan menciptakan penjara-penjara ketakutan pada anak-anak kita.  Dan membuat mereka selalu ragu melangkahkan kaki keluar rumah.

Bagaimana cara menghadapi remaja ini?

 
Mom berdasarkan beberapa buku yang pernah saya baca, j serta mengutip beberapa hal dari buku duet parenting saya dengan Teh Endah (psikolog), Nyebur Ke Dunia Anak, beberapa hal berikut mungkin bermanfaat untuk menghadapi remaja kita.

1. Menyadari dan menerima setiap tahap perkembangan anak

Mom, seringkali kita lupa, bahwa anak remaja terkadang masih ingin dimanja dan diperhatikan. Mereka sedang memasuki tahap ingin  mandiri, namun memiliki keterbatasan kemampuan.
Kita pun akan dibingungkan dengan keinginan kinginan mereka yang mendesak agar dianggap dewasa, sekaligus tingkah kekanakan mereka.

2. Menjalin komunikasi yang inten

Seringkali kita lupa, bahwa dulu, kita pun pernah mengalami masa galau saat remaja. Kita lupa, pada saat itu kita pun tengah menghadapi jalan yang begitu terjal untuk menemukan jati diri.
Memiliki kesempatan berdialog dengan orangtua akan menjadi salah satu hal yang menyenangkan sekaligus menenangkan.

3. Menghargai mereka

Ketika kita berada dalam posisi mereka,  bukankah akan sangat melegakan bila orangtua memahami segala ketidakjelasan kita. Dan senantiasa menyediakan waktu luang untuk mendengarkan berbagai mimpi-mimpi konyol kita (yang dulu tentu terasa hebat dan keren). Tindakan tersebut akan membuat kita merasa dihargai.

Penghargaan yang kita peroleh dari orangtua menumbuhkan rasa percaya diri kita. Rasa percaya diri ini yang menjadi modal untuk mengatasi hal-hal negatif yang senantiasa  mengelilingi dan menjebak remaja.

4. Meminta pendapat

Mom, salahkah bila kita sesekali meminta pendapat pada anak, terutama remaja? Tentu tidak, bukan? Ya. Bahkan terkadang hal ini sangat penting. Selain membuat kita memahami sejauh mana pemikiran anak-anak kita, kita juga membuat mereka belajar menempatakan diri pada posisi orang lain, yaitu orangtuanya.

6. Usap, Pandang, Sapa.

Saya tidak memungkiri, bahwa anak-anak remaja ini kadang bertingkah laku menyebalkan dan menguras emosi. Namun, sebaiknya kita tidak lupa, bahwa mereka masih memiliki keinginan untuk ditatap penuh cinta, diusap dan dielus, serta disapa penuh rasa sayang.

7. Doa

Jujur saja,  3 dari 6 anak saya  saat ini tengah berada di usia remaja, terkadang, saya juga kewalahan menata hati.  Rasa jengkel, dan lain sebagainya, kadang membuat intonasi suara dan raut wajah saya menjadi menyeramkan. Kita tentu saja tidak pernah sempurna di mata anak-anak.  

Dan doa, ujar mamaku (yang juga memiliki 6 anak) adalah upaya terakhir yang harus dilakukan untuk kebaikan buah hati kita. 

Karena doa dari kedua orangtua, terutama ibu, adalah perisai terbaik bagi anak-anak.
Memohonkan perlindungan dan pengawasan kepada Sang Pencipta, Allah Swt, merupakan sebaik-baiknya cara agar anak-anak kita terhindar dari bencana. Baik yang ditimbulkan oleh orang lain, maupun kerusakan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri.
Wallahu’alam.

Semoga curahan hati di atas bermanfaat bagi pembaca semua. Terima kasih atas kunjungannya.

18 komentar:

  1. Betul Mbk, kita mesti jaga anak-anak kita, terutama soal doa. sepakat banget

    BalasHapus
  2. Iyaaaaa mbak Naqi. Trims yaaa

    BalasHapus
  3. Iyaaaaa mbak Naqi. Trims yaaa

    BalasHapus
  4. Aku pernah mbak.. liat anak sma korban tawuran jerit2 manggil ibunya krn ada pisau menancap di perutnya... itu pas aku ke UGD rumah sakit. Sepulang aku dari ruang dokter, anaknya dah meninggal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw...akun googleku ada 2 nih. Kalo pake hape jadi akun google hape yg muncul..akun blog lain lagi. Mbak..setting komennya diubah jadi untuk everyone gitu biar aku bisa ngisi nama-url aja...

      Hapus
    2. Btw...akun googleku ada 2 nih. Kalo pake hape jadi akun google hape yg muncul..akun blog lain lagi. Mbak..setting komennya diubah jadi untuk everyone gitu biar aku bisa ngisi nama-url aja...

      Hapus
    3. Serem banget ya Mbak Anita.

      Btw.. aku otak-atik dulu yaaa

      Hapus
  5. serem bener, mbak. Ku pikir daerah jenengan ki aman lho, secara apa-apa serba ga boleh. Trus tindakan dari RT gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru-baru ini aja kok. Tapi ya mengkhawatirkan kalo gak ditangani

      Hapus
  6. seram banget Mbak, semoga anak-anak kita dijauhkan dari sifat tidak terpuji ini yah, amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... semoga aja ada tindak lanjut dari pihak keamanan setempat. Jadi kejadian di atas tidak terulang lagi.

      Hapus
  7. Duh ngeri banget baca cerita kaya' gini. :( Membayangkan bagaimana jadi si anak yang dipukuli. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga ngeri pas denger cerita dari ibu-ibu yang liat sendiri kejadiannya. Hiks.
      Semoga anak-anak kita terlindungi.. aamiin

      Hapus
  8. Heheh, saya kebetulan ngajar di SMK. Alhamdulillah tidak rentan tawuran, tapi lebih rentan bergaul sama anak-anak punk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak punk? Ngeri-ngeri lucu kali yaa...
      Btw, selamat mendampingi generasi penerus bangsa ya Mom..
      Makasih udah mampir.

      Hapus
  9. Membayangkan anak-anak kita yg jadi korban...

    Duuuh membayangkan saja sudah takuuut. Dan hanya doa yg bisa menenangkan.

    Salam kenal mbak liza :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak. Ngeriii...
      Semoga anak kita terlindungi.

      Salam kenal kembali. ..

      Hapus
    2. Betul Mbak. Ngeriii...
      Semoga anak kita terlindungi.

      Salam kenal kembali. ..

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^