Kamis, 24 Desember 2015

Hidungku Mampet, Bu. GADO-GADO Femina Ed. April 2015

Anak-anak selalu penuh kejutan. Kadang kita bisa menebak laku  mereka, namun, tak jarang kita terperangah dibuatnya.
Seperti pengalaman saya berikut...




Hidungku Mampet, Bu
Oleh : Liza P Arjanto

            Keluhan anak kerap menjadi hal yang paling menyebalkan. Terutama di saat kita tengah tanggung  mengerjakan suatu pekerjaan. Dan itulah yang dilakukan  Arsyad, anakku yang baru berusia 3 tahun.
            Aku tengah berjuang menyelesaikan tumpukan setrikaan yang menggunung--ah, menyetrika pakaian merupakan salah satu pekerjaan yang sebisa mungkin kuhindari. Namun karena aku tidak memiliki asisten rumah tangga, sejauh apapun aku menghindar, aku tetap harus berurusan dengan tumpukan baju-baju itu. Menyebalkan sekali.

 
            Arsyad mengintrupsi pekerjaanku tepat ketika semangatku tengah membara untuk melicinkan baju-baju kusut itu.
            “Bu, hidung Arsyad mampet,” keluhnya dengan suara cadel.
            Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum menenangkan. Sejak semalam ia memang agak pilek. Maka hidung yang mampet di pagi hari bukanlah hal yang aneh.


            “Arsyad tiduran dulu ya, Ibu selesaikan pekerjaan trus kita main.”
            Arsyad menurut. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah adik  kecilnya dan menonton TV. Tapi tak berapa lama ia pun  kembali mengeluh.
            “Bu, hidungku mampeeet...” kali ini suaranya agak keras.
            Aku menghela napas. Sambil tak jua melepaskan setrikaan, aku menyuruhnya untuk mendusin. Apa daya, bocah kecil itu bukannya mendusin malah menarik napas kencang-kencang. Dan kembali berteriak.
            “Bu, aku gak bisa bernapas.”
            Dengan hati mendongkol aku pun menghampirinya. Dengan sehelai tisu yang kutempelkan ke hidungnya, aku menyuruh anakku mengeluarkan ingus di hidungnya. Tapi sepertinya sia-sia. Tak ada lendir  yang menempel di tisu. Ia malah menyedot hidungnya keras-keras.
            Tiba-tiba aku terpikir untuk mengajak Arsyad mandi uap. Bukankah mandi uap dengan rempah-rempah alami bisa menyembuhkan flu dan melegakan pernapasan? Kebetulan salah seorang tetanggaku baru membuka jasa sauna di rumahnya. Mumpung sedang masa promosi, pikirku senang.
            “Nak, setelah Ibu selesai menyetrika, kita mandi uap ya.”
            Mata sipitnya menatapku heran.
            “Memangnya kalo mandi uap bisa sembuh?”
            “Hu-um.”
            “Nanti aku gak mampet lagi? Bisa bernapas lagi?” Matanya penuh harap.
            Aku mengangguk meyakinkan. “Nah, sekarang Arsyad ajakin Dedek main dulu ya. Biar gak rewel dan Ibu bisa kelar menyetrika.”
            Arsyad setuju. Ia pun mengajak adiknya bermain sampai tumpukan baju kusut itu berubah menjadi susunan baju yang rapi. Aku menyeka keringat dengan perasaan lega. Bisa menyelesaikan pekerjaan ini merupakan prestasi tersendiri bagiku.
 Kulihat Arsyad tengah berlari-lari di sekitar rumah dengan ceria. Tapi tak lama kemudian ia pun menghampiriku.
            “Kita mandi uap sekarang, Bu?”
            Aku mengangguk. Dan Asyad pun bersorak gembira. Dalam hati aku menduga-duga  seperti apa reaksi bocah itu dalam ruangan sauna. Apakah ia akan sesenang ini?
            Tepat seperti dugaanku. Anak itu menjerit ketakutan. Susah payah aku membujuknya untuk mau berdiam sedikit lebih lama dalam ruangan penuh uap itu. Aroma harum rempah yang merebak tak mampu menenangkannya.
            “ Sebentar lagi ya, Nak. Biar hidung Arsyad gak mampet lagi.” Bujukku.
            Arsyad mencoba bertahan. Sekalipun aku menemani dan memeluknya, rupanya uap dan hawa panas membuatnya tak nyaman. Ia menangis terus selama dalam ruangan. Hanya sesekali ia mau menghentikan tangisnya.
Tak sampai sepuluh menit, kulihat wajah dan tubuhnya  basah bersimbah keringat. Rasanya itu sudah cukup. Dan aku pun berharap Arsyad tak lagi mengeluhkan hidungnya yang mampet.
Kami keluar ruangan dengan kulit kemerahan dan basah. Hawa sejuk langsung terasa, sesaat setelah keringat yang menetes menguap disapu angin. Kulirik anakku tengah tersenyum. Wajahnya diliputi kelegaan.
Eh, tetapi apa itu? Aku tersentak melihat gumpalan merah yang menonjol dari salah satu lubang hidungnya. Benjolan itu tampak seperti gumpalan darah. Apakah mandi uap bisa menyebabkan pendarahan di lubang hidungnya?
Dengan dada berdebar aku memencet hidung anakku itu. Gumpalan merah itu terasa keras di tanganku. Merasa ada yang aneh, aku memperhatikan lebih serius, ternyata gumpalan merah itu adalah sebutir manik bewarna merah.
Kutatap anakku dan manik merah itu silih berganti. Jadiiiii.... benda inikah yang membuat hidung anakku terasa mampet?
 Tiba-tiba aku bergidik membayangkan anakku yang sejak tadi berulang kali menyedot napas kuat-kuat, sementara aku menyetrika dengan amat tenang.
Tamat
           


4 komentar:

  1. Ya Allah, Bu

    Daku bacanya sampe deg deg an 〒_〒 jd kenapa manik itu bisa kehirup arsyad?

    BalasHapus
  2. Katanya sih iseng aja, Mba Nufa. Dia kan memang sejak sehari sebelumnya mainin manik itu. Trus, entah kenapa tiba-tiba dimasukin ke hidung. hihihi....

    BalasHapus
  3. Hidung mampet menghilangkannya mudah sekali, bisa menggunakan air panas, dan bisa gunakan sambil minum, atau uap dari air panas tersebut. Dan tentunya sebaiknya istirahat dulu bila memungkinkan, apa lagi hindari dari sinar-sinar smartphone, bisa-bisa tambah pusing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungan dan tips hidung mampetnya, Mas. Bermanfaat banget...

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^