Senin, 21 Desember 2015

DRAMA, GADO_GADO Femina Ed. November 2015

Tidak semua hal buruk betul-betul buruk adanya. Ada kalanya, dari hal-hal buruk yang kita temui dalam kehidupan, berbuah manis.
Seperti cerita berikut...




Mendadak Drama
Oleh : Liza P Arjanto

            “Pertempuran dimulai...” Kalimatku langsung disambut pekik semangat  anak-anakku. Sebentar saja rumah sudah berubah menjadi ajang pertempuran yang penuh derai tawa. “Kekacauan” ini akan berlangsung beberapa menit saja     
Tak selalu aku mensetting ruang tamuku sebagai ajang pertempuran. Kadang kala aku akan membiarkan mereka memukul sembarang benda sebagai alat musik. Kadang-kadang juga aku menyuruh anak-anak lomba nyanyi. Atau paling tidak, aku akan menyetel suara TV dan musik keras-keras.
            Alasannya sederhana, agar anak-anakku tidak mendengar suara-suara mengganggu yang berasal dari sebelah rumahku.

            Memiliki tetangga dekat yang baik tentu saja merupakan anugerah tak ternilai dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, mereka-lah keluarga terdekat kita manakala kita berada dalam rantauan.
            Bersikap baik merupakan keharusan agar kita dapat merasakan ketentraman dalam lingkungan tempat tinggal kita. Aku pun berharap demikian. Namun, kita tak bisa menolak takdir, ketika tetangga terdekat kita ternyata adalah orang yang berbeda dengan keinginan kita.
            Ya, begitulah. Sejak tetangga baru itu menempati rumah di sebelah rumah kami, suara-suara pertengkaran antara suami-istri kerap memasuki dinding-dinding rumah kami. Puncaknya adalah ketika takdir menghendaki mereka bercerai- seperti yang sering diminta si istri dalam setiap pertengkaran antara mereka. Hanya saja, yang menceraikan mereka adalah maut.
            Dalam kesedihan dan keterkejutan atas kematian suami, si istri mengalami depresi berat. Dalam depresinya, ia seringkali berteriak-teriak. Mengeluarkan umpatan-umpatan kasar yang amat tidak sedap didengar. Selain mengumbar kata makian kasar, ia juga sering mengumbar umpatan yang tak pantas didengar oleh telinga manapun karena mengandung kata-kata jorok.
            Sebagai seorang ibu, tentu saja aku gregetan dan cemas melihat dampak suara tersebut pada anak-anakku. Hati ibu mana yang tak resah melihat ketegangan yang timbul di wajah buah hatinya?
            Aku pun mulai menegur tetangga baruku itu. Tapi teguranku hanya bertahan beberapa menit saja. Begitu aku kembali ke dalam rumah, sumpah serapahnya kembali memenuhi gendang telinga kami.
            Ketidaknyaman yang kualami juga dialami tetangga lainnya. Kami pun berinisiatif melapor ke pengurus RT. Namun pengurus RT angkat tangan, karena beranggapan hal itu adalah tanggung jawab pihak keluarga yang bersangkutan. Apalagi, dalam berbagai kesempatan, si ibu tetangga itu menunjukkan sikap yang normal.
            Gangguan demi gangguan terus berlangsung. Bahkan saat tengah malam, kami sering dibuat kaget dengan suara bantingan pintu secara berulang atau suara gedoran tembok yang mengganggu.
            Menghubungi pihak keluarganya pun pernah juga aku lakukan. Tapi, lagi-lagi pihak keluarga seakan-akan tak mau tahu. Mungkin, karena mereka tidak mengalami seperti yang kami rasakan.
            Kehabisan cara bagaimana mengatasi suara-suara tak sedap itu, akhirnya aku berusaha mengajak anak-anak untuk tak lagi mempedulikan suara-suara itu. Setiap kali, terdengar teriakan kemarahan atau lengkingan yang mengganggu, kami akan melakukan berbagai pertunjukan agar suara-suara itu tak masuk dalam benak anak-anak dan mengganggu pertumbuhan mental mereka.
            Kadang kala, pada saat-saat tertentu, kami malah bisa menertawakan suara menyeramkan dari arah sebelah rumah itu.
            “Dengar, sepertinya sedang ada audisi.”cetus salah seorang anakku.
            “Bukan. Ibu itu sedang latihan drama.” Sanggah adiknya.
            Lalu pecahlah tawa mereka. Untuk beberapa saat mereka  menertawakan pemikiran mereka yang konyol. Lalu kembali tenggelam pada aktivitas mereka sebelumnya. Pada saat-saat seperti itu, aku diliputi ketenangan. Ibu mana yang tidak lega melihat senyum yang terbit di wajah buah hatinya?
 Namun, harapan terbesarku adalah, tetanggaku tersebut sembuh dan bangkit dari depresinya yang berkepanjangan. Semoga...
Tamat. 


5 komentar:

  1. Trus, bagaimana komentar anak-anak dengan kata joroknya? *penasaran mode on

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa kata jorok, pake bahasa daerah, yang ini anak-anakku gak tau. Aku cuma ngeri, mereka merekam dan mengucapkan di sembarang tempat.

      Yang paling kelas, ya kebun binatang dan segala makhluk astral.

      Hapus
  2. Mbak yu ku kerennn! Ga cuma tulisannya, juga kiatnya mnghadapi drama ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya habis gimana lagi, Mbak Dini? Saat kita tidak bisa mengontrol orang lain, satu-satunya yang bisa kita kontrol adalah diri kita dan orang terdekat.

      Sebetulnya, ini terinspirasi pada kisah seorang anak yang disembunyikan ayahnya saat perang, yang mengatakan bahwa apapun yang didengar dan dilihat anak dalam peperangan hanya sandiwara. Mungkin Mbak Dini sudah pernah baca.

      Saya cuma berusaha melindungi memori mereka semampunya... hehehe. Mereka berhak untuk hidup nyaman.

      Hapus
  3. wah mantap mba. cara bertuturnya ngalir banget, pantas jebol gad2. keren ih

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^