Kamis, 12 November 2015

SEBIRU LANGIT DI ATAS TURELOTO - Cerpen MAJALAH GADIS- Liza P Arjanto

Kisah ini terinspirasi oleh sosok pejuang Hipertensi Paru yang telah gugur di usia muda. Namun keceriaan dan semangat hidupnya tetap menyala di bilik-bilik kenangan para sahabat, sesama pejuang Hipertensi Paru.

Bahwa hidup tak layak untuk ditakuti, melainkan untuk diisi dengan memberi sebanyak-banyaknya  kebahagiaan bagi mereka, yang tercinta.




Sebiru Langit di Atas Tureloto
Oleh Liza P Arjanto

            Alisa memayungkan telapak tangannya tepat di garis alis matanya yang tebal. Ia menyesali keteledorannya tidak membawa topi. Rasa sesal yang segera saja sirna melihat nuansa biru yang berkilau-kilau di atas pantai Tureloto. Ia ingin sekali larut dalam kebiruan itu. Dan melupakan kesedihan yang dibawanya ke Tano Niha.
 
Kakinya terus melangkah di antara batu-batu karang  di bibir pantai. Rasa takjub menyelimutinya saat memperhatikan batu-batu karang nun di tengah laut. Untaian batu karang itu seolah-olah menjadi benteng raksasa yang melindungi pulau yang berada di bagian selatan Pulau Nias. Dan secara ajaib menciptakan sebuah kolam alam raksasa yang demikian tenang dan jauh dari keganasan gelombang laut.
            Sejak kedatangannya ke pulau ini, tiga hari yang lalu, Alisa sudah dua kali merasakan sensasi aneh berenang terapung di lautan. Ia sudah lama mendengar keunikan Pantai Tureloto ini, dan alangkah gembiranya ia, ketika panitia lomba tulis yang dimenangkannya memberi hadiah berupa paket wisata ke Pulau Nias. Dan di sinilah sekarang ia berada.
            Jika saja papa tidak pergi, keluhnya dalam hati. Sekelebat mendung mengapung di bola matanya. Ia memejamkan matanya sejenak. Mencoba mengusir sesak yang bersarang sejak beberapa bulan terakhir di rongga dadanya. 
            “Hei, hati-hati!”
 Sebuah lengan menyambar tangan Alisa hingga menahan laju tubuhnya ke arah sebuah batu karang yang berada tepat di depannya. Alisa cepat-cepat menyeimbangkan tubuhnya. Secepat itu pula ia menepis tangan yang mencengkramnya. Ucapan terima kasih di ujung lidahnya mendadak sirna begitu menyadari sosok cowok kurus di sebelahnya. Radi, pikirnya sebal. 
            “Kamu gak punya kerjaan lain selain membuntutiku?” semburnya tanpa tedeng aling-aling.
            “What? Membuntuti kamu? Helloow, Nona Kesepian, lihat...” Radi menunjuk ke arah belakang Alisa. “Mbak Vera yang menyuruhku memanggilmu. Buat makan siang. Sebelum kamu menghilang lagi entah kemana.”
            Alisa hanya mendengus, lalu tanpa kata-kata ia mengikuti langkah Radi kembali ke pondok yang mereka tempati. Ia heran, mengapa cowok itu selalu mengikuti kemana pun ia pergi. Seolah-olah...
            “Nah, kan... sekarang kamu mulai melamun lagi,” tegur Radi.
           Alisa hanya melirik tajam ke arah Radi. Sebetulnya ia ingin bereaksi lebih baik. Mengucapkan terima kasih. Atau bahkan bercanda dengan cowok itu. Sebagaimana finalis lomba lainnya. Tapi entahlah. Beberapa bulan ini rasanya ia tidak lagi mengenal dirinya. Dan semua itu karena kepergian papa. Siapakah yang bisa mengerti dan memahami perasaannya?
            “Ceritalah, Alisa, barangkali aku bisa membantumu keluar dari kesedihanmu.” Suara Radi pelahan di antara debur lembut gelombang.
 Alisa tergagap. 
            “Kamu?”
            “Ya. Aku tahu kamu sedang sedih. Aku memperhatikanmu sejak hari pertama kita bertemu. Wajahmu selalu tampak mendung. Seperti.... seperti...” Kalimat Radi menggantung. Matanya bersinar jail.
            “Seperti apa?” sergah Alisa.
           
 Radi tergelak.
 “Hei, Nona Galak. Hati-hati matamu nanti copot.” Radi berkelit ketika menyadari tangan Alisa menjulur ke arahnya. Dan hal itu membuat Alisa bertambah kesal padanya. Ia dapat mengetahuinya dengan melihat bibir Alisa yang mengerucut. Itu lebih baik tentu saja, daripada melihat kabut di bola mata gadis yang telah mencuri perhatiannya sejak lama. 



            Tanpa kata mereka melangkah mendekati rombongan panitia dan finalis lainnya di luar pondok. Mereka duduk melingkar  di atas pasir. Bernaung di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh tak jauh dari tepi pantai.  Mbak Vera tampak sibuk membantu seorang gadis setempat yang tengah mengeluarkan beberapa bungkusan daun dari dalam pasir yang ditimbun bara api. Asap yang menguar bersama aroma lezat hinggap di hidung Alisa. 
            “ Aha, Silio Guro.” Radi bergegas menuju ke arah Mbak Vera. Namun Mbak Vera dengan sikap tegas segera mengusirnya. Radi kembali ke arah Alisa yang telah duduk di atas pasir. Menyendiri. 
            “Apa katamu tadi? Silio Guro?” tanya Alisa tanpa mengalihkan tatapannya ke arah bungkusan daun yang baru saja dipindahkan ke tengah-tengah lingkaran.
            “Ya. Makanan khas penduduk sini yang terbuat dari udang giling yang dicampur kelapa. Mereka menyebutnya Silio Guro.” Alisa menganguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya, Radi tahu banyak tentang Pulau Nias ini. 
Ia teringat, kejadian di hari pertama mereka tiba. Hampir saja ia melakukan hal yang memalukan dengan memberikan tiga buah novel miliknya kepada pengurus perpustakaan daerah dalam kunjungan pertama mereka. Radi membisikinya agar menambah atau mengurangi jumlah buku yang ingin disumbangnya.
“Tapi novelku baru ada tiga, Radi!” Alisa bersikeras.
“Terserah. Tapi sebaiknya kamu siap-siap mendapat teguran.”
“Kok?”
“Memberi dalam jumlah tiga dianggap penghinaan.”
“Tapi kan aku gak bermaksud menghina.”
“Ya. Tapi kamu berada di sini. Dan di sini, memberi barang dengan jumlah tiga dianggap penghinaan.”
“Sok tahu!”
“Aku memang tahu! Jadi... Nona Keras Kepala, sebaiknya kamu banyak-banyak membaca tentang lokasi yang akan kamu kunjungi, sebelum kakimu melangkah di atas tanahnya.”
Alisa terdiam. Ia tahu, Radi betul.
“Saohagolo...”Terima kasih. Radi dengan antusias menyambut bungkusan daun pisang yang diberikan gadis setempat. Gadis tersebut menyambutnya dengan senyum lebar dan anggukan kecil.
Huh, dasar tukang pamer, dengus Alisa sebal.
“Hmmm, ami...”Lezat. Radi mengacungkan jempolnya setelah suapan pertama. Alisa melihat senyum di wajah gadis itu semakin lebar. Memperlihatkan sederetan gigi putih bersih yang membuat wajahnya menjadi menarik. Ketulusan gadis setempat itu segera menular, membuat sebuah lengkung indah di wajah Alisa. Dan menerbit rasa lapar di perutnya.
Seperti teman-teman lainnya, ia mulai menyantap sebungkus saku nisolo, sagu yang disiram santan, serta guro silio yang menyengat lidahnya. Rasanya memang sangat enak. Alisa menghabiskannya tanpa sisa.
Usai menyantap makan siang, seperti biasa Mbak Vera membebaskan para finalis untuk melakukan berbagai aktivitas. Wanita berambut sebahu itu mengingatkan agar peserta rombongan tidak memisahkan diri sendiri-sendiri. Ketika mengatakan itu, mata Mbak Vera menatap tajam ke arah Alisa. 
“Tenang, Mbak Ver. Aku siap menemani nona ini.” Seloroh Radi yang segera saja disambut deheman finalis lainnya. Sementara itu, Alisa merasakan wajahnya memerah. Dalam hati ia merutuk kekurangajaran cowok itu. Kurang ajar? Ya, tentu saja. Cowok itu selalu berada di dekatnya. Mengawasinya. Seolah-olah ia anak kecil yang setiap saat terancam bahaya.
Alisa menatap sewot Radi yang tengah memamerkan kemampuannya menggunakan bahasa setempat. Teman-teman finalis lainnya mengelilingi cowok bertubuh kurus itu  hanya untuk belajar beberapa patah kata.  Sekelumit rasa iri terbit di hatinya melihat keceriaan cowok memiliki wajah mirip Afgan, artis idolanya itu. Dimanapun ia berada, ia selalu menebar kegembiraan pada orang-orang di sekitarnya. 
*
Hingga hampir menjelang pagi Alisa tak juga bisa memejamkan mata. Lagi-lagi ia teringat papa. Kepergian papa yang begitu cepat akibat penyakit jantung yang selama ini disembunyikannya begitu memukul perasaan Alisa. Ia tak bisa menerima kepergian papa yang tiba-tiba. Papa seolah-olah terengut begitu saja dari kehidupannya. 
Kakinya melangkah keluar kamar. Di sebuah ruangan tiba-tiba saja langkahnya  terhenti. Ia melihat Radi tengah menelan beberapa butir obat dengan sikap mencurigakan. Meskipun merasa curiga, Alisa diam-diam berlalu dan pura-pura tidak melihatnya.
Alisa meneruskan langkahnya meninggalkan pondok. Ia tak menggubris udara yang terasa dingin di kulit wajahnya. Pun ketika ia mendengar Radi memanggilnya. Lalu langkah Radi yang tergesa mengejarnya. 
“Alisa, tunggu...”
Alisa terus melangkah cepat. Ia ingin menghilangkan rasa sesak  dengan melarutkannya ke dalam lautan yang masih menyisakan hangat di telapak kakinya. Kehilangan papa sungguh tak tertahankan. Karena papa satu-satunya orangtua yang dimilikinya setelah mama memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
Terkadang Alisa berpikir, Tuhan bersikap tak adil padanya. Mengapa harus ia yang mengalami kepahitan hidup seperti ini. Air laut merambat naik ke tubuhnya. Alisa merasakan kehangatan yang membuat bebannya sedikit demi sedikit terangkat.
Air laut yang tenang dan hangat seakan dekapan lembut papa. Papa yang memeluk dan menghiburnya setiapkali ia menangis. Dulu ia seringkali menangis. Menangis hanya untuk hal-hal remeh. Karena ia senang berada dalam dekapan papa. Karena itulah satu-satunya cara agar dapat melupakan mama.
Ia berhenti melakukannya ketika menyadari gumpalan kesedihan memancar dari sorot mata papa setiapkali ia menangis. Sejak itu ia berjanji, ia hanya ingin melihat cahaya di sepasang mata papa.  Dan ia melihatnya setiapkali berhasil mengukir prestasi di sekolah. Juga di dunia tulis. Dunia yang sangat dicintai papa. Dunia yang membuatnya terpisah dari mama. Sebab mama tak tahan menjalani hidup bersama seorang penulis. Dan memilih pergi bersama laki-laki lain.
Alisa mengerjapkan mata. Menatap gemerlap cahaya ribuan bintang yang masih berpijar di atas langit Tureloto.  Sesuatu terasa sesak di dadanya. Ia iri pada ribuan bintang itu. Bintang yang kini merengkuh papanya dan menyisakan sunyi untuknya. Ia ingin larut dalam lautan luas. Ia ingin melupakan semua kesunyian ini. 
*
“Alisa... Alisa. Sadarlah!” suara Radi terdengar panik. Ia terus menepuk-nepuk pipi gadis yang tak sadarkan diri itu. Ia mengulanginya hingga akhirnya Alisa tersedak dan mengeluarkan air dari mulutnya.
“Gila. Kamu mau bunuh diri ya?” Radi menatapnya tajam, meski begitu ia tak bisa menyembunyikan kelegaan di wajahnya.
Alisa menggeleng lemah. “Aku hanya ingin berenang.”
“Berenang malam-malam begini?” Kemarahan dalam suara cowok itu belum surut. “Bayangkan kalo aku tidak melihatmu pergi meninggalkan pondok. Kamu bisa tenggelam.”
“Laut ini tak akan menenggelamkanku.” Lirihnya.
“Tapi kamu ...”
“Jika pun aku tenggelam, lantas apa pedulimu?” Alisa menatap ke arah langit. Bintang-bintang masih bercahaya. Pajar belum sepenuhnya menyingkap kegelapan malam. Ia masih merasa hampa.
“Jelas aku peduli! Karena kekonyolanmu ini akan merusak seluruh acara dan mungkin menyebabkan tindakan hukum yang panjang bagi panita dan teman-teman.”
Alisa terdiam. Ia menyadari kebenaran kata-kata Radi.
“Dan satu lagi, Nona Putus Asa. Asal kamu tahu, dengan bunuh diri, kamu juga mengkhianati papamu.”
Alisa tersentak.
“Apa maksudmu?”
“Hei, kamu pikir, cuma kamu yang mengenal papamu? Kamu pikir, cuma kamu kehilangan papamu? Dasar picik. Aku heran. Kenapa penulis besar seperti papamu bisa memiliki putri dengan mental selemah ini.”
Alisa tertegun.
“Kamu? Mengenal papa?”
“Ya. Aku mengenal beliau. Aku pengagumnya. Kami pernah bertemu beberapa kali. Dan papamu selalu senang hati memberikan koreksi atas tulisan yang kubuat. Ia juga mengajariku tehnik dan cara menulis yang baik. Kami bersahabat.”
Alisa menatap tak percaya.
“Tapi aku tak pernah melihatmu. Dan papa tak pernah menceritakan tentang kamu. Papa,  hanya sering bercerita tentang seorang pemuda yang mengagumkan. Dan, dan ... aku yakin itu bukan kamu.”
“Papamu bercerita tentang siapa?”
Radi menatap penasaran.
“Rahadian Sadewa.” Tiba-tiba Alisa tersentak. Matanya melotot ke arah Radi. “Ka...kamu Rahadian Sadewa?” bibirnya gemetar. Oh, Tuhan...
*


Radi duduk terdiam di sebelah Alisa. Ombak kecil silih berganti menjilat kaki-kaki mereka yang terjulur ke laut.
“Jadi obat-obatan yang kamu minum diam-diam itu...”
“Hidupku tergantung pada obat-obatan itu. Dan aku tak ingin seorang pun tahu tentang penyakitku.”
“Itu sebabnya kamu selalu tampil ceria? Menutupi penyakitmu?”
“Kamu salah.” Radi menghela napas. “Aku hanya ingin menikmati setiap hembusan napas yang masih tersisa. Aku ingin setiap detik mengukir kebahagiaan bagi orang yang ada di sekitarku.”
Alisa tercekat. Dengan terbata ia bertanya. “Papa menyebutnya hipertensi paru? Benarkah? Kelihatannya kamu baik-baik saja.”
“Kelihatannya. Dan aku sungguh berharap begitulah adanya.” Radi tersenyum pahit. “Kamu tahu, papamulah yang membuatku berhasil keluar dari ketakutanku. Sebelum mengenal beliau, aku selalu takut, Alisa. Aku takut dengan napas yang sewaktu-waktu putus. Aku takut, bila saat itu terjadi, aku hanya melakukan hal-hal bodoh....”
“Kamu sudah melakukannya tadi malam,” Alisa menatap bibir Radi yang pucat. Kebiruan. “saat berusaha menolongku yang nyaris tenggelam.”
“Itu bukan kebodohan, Nona Sok Tau.” Radi tersenyum. “Aku hanya berusaha menjadi pahlawan untuk menyelamatkan putri satu-satunya dari orang yang telah membuatku bangkit dari kematian.”
Alisa menatap tajam. “Tapi itu bisa menyebabkan kamu ...”
“Tetap saja menyelamatkan sebuah kehidupan bukanlah hal yang bodoh.” Tukas Radi.  Matanya menatap Alisa. Dalam. “Dan, andai aku memiliki seribu nyawa. Aku tak akan keberatan melepasnya satu demi satu untukmu.”
Alisa memerah.
“Kurasa kamu berlebihan, Radi.” Alisa memalingkan wajah dari tatapan mata Radi. “Kamu gak punya nyawa sebanyak itu.”  
“Ya. Aku tahu. Dan aku harap, kamu tidak lagi melakukan kebodohan seperti tadi malam. Janji?”
Alisa menyembunyikan senyum. Dilihatnya langit begitu indah. Begitu biru.  Entah mengapa, ia seperti melihat papa tersenyum di atas langit Tureloto. Tamat.




16 komentar:

  1. ajariiii bikin yang kayak giniii..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo nuliiiiisss... Mbak Arinta. Nanti juga bisa.
      Makasih udah berkenan mampir. :)

      Hapus
  2. Aku suka :-) ... Mba liza seolah ini ceritaku ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal, Riska..
      Ceritanya sama dengan dirimu? Wah... :)
      Makasih udah mampir.

      Hapus
  3. Nice banget...saya suka bagian kalimat:
    “Aku hanya ingin menikmati setiap hembusan napas yang masih tersisa. Aku ingin setiap detik mengukir kebahagiaan bagi orang yang ada di sekitarku.”

    Benar2 mengingatkan sosok seseorang yg selalu tampil ceria dan selalu menebarkan aura positif dimanapun dia berada..

    *alfatihah epong priyatna*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mbak Windi... terima kasih sudah mampir di sini. :)
      Almarhum sosok yang luar biasa ya?

      Hapus
  4. Nice banget...saya suka bagian kalimat:
    “Aku hanya ingin menikmati setiap hembusan napas yang masih tersisa. Aku ingin setiap detik mengukir kebahagiaan bagi orang yang ada di sekitarku.”

    Benar2 mengingatkan sosok seseorang yg selalu tampil ceria dan selalu menebarkan aura positif dimanapun dia berada..

    *alfatihah epong priyatna*

    BalasHapus
  5. Kak, mau tanya cara pengiriman cerpen ke majalah gadis gimana ya? Saya sudah coba berulang kali tapi kok gagal sewaktu ngirim. Pdhl alamat emailnya saya rasa sudah benar.
    Btw cerpennya keren kak^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah mampir di sini.

      Btw, kakak pernah baca, dari postingan salah satu teman penulis, ada penjelasan dari redaksi Gadis, bahwa meski naskah yang kita kirim dibalas dengan info gagal kirim, tapi naskah tersebut sebetulnya sudah masuk.

      Hapus
  6. Oh, I see. Makasih banyak infonya kak. Sukses selalu^^

    BalasHapus
  7. Keren banget.
    Aku masih lemah nulis teenlit.
    Pengen belajar, nih, sama Mbak. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih yaaa sudah mampir di sini :)

      Hapus
  8. Keren sekali ceritanya, Mbak Liza.
    Saya jadi ingin ke Pulau Nias berlibur hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo diagendakan, Mas Bams. Gak bakal nyesel...

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^