Jumat, 22 Mei 2015

Percikan : Sepasang Mata Coklat

Ide ini mengendap selama 2 tahun. Selama itukah? Ya. Karena ide ini menarik, ide ini selalu menggeliat mencari bentuk. Hingga akhirnya muncullah sebagai sebuah Percikan yang dimuat di Majalah Gadis Edisi.13.

Selamat membaca....



Sepasang Mata Coklat
Oleh : Liza P Arjanto

            Sudah beberapa hari ini  sepasang mata coklat itu mengikuti Wina. Wina tahu betul, warna bola mata lelaki itu, karena ia pernah berpapasan dengannya tepat di depan gerbang. Sepasang mata yang bersinar ramah dan sebuah senyum yang mengembang sempurna ke arahnya. Meski merasa heran, Wina membalasnya dengan anggukan kepala kecil.
            Biasanya pemilik mata itu hanya mengikutinya dengan tatapan hangat. Namun kali ini,  pemilik mata itu  mengikuti langkahnya. Sungguh tak nyaman rasanya. Wina mempercepat ayunan langkah kakinya.

 Jarak antara sekolah dan rumahnya tak terlalu jauh. SMA Negri favorit itu memang berada di tengah  perumahan tempat tinggalnya. Sehingga ia selalu berjalan kaki setiap pulang dan berangkat sekolah.  Biasanya semua terasa menyenangkan.  Tapi tidak kali ini. Perjalanan pulang sekolah membuat dadanya berdebar.
            Jika saja Lovi tidak  sakit, keluh Wina. Lovi adalah sahabatnya. Meski tidak sekelas, mereka selalu pulang sekolah berbarengan. Kehadiran Lovi akan membantunya mengurangi rasa cemas yang muncul saat ini.
            Satu belokan lagi. Rumah Wina ada di ujung jalan. Ia melirik ke arah belakang. Tak ada siapapun. Rasa heran  memenuhi dadanya, ketika ia menyadari lelaki tua bermata coklat itu tak lagi membuntutinya. Secara otomatis ia merapikan poni yang menutupi keningnya, gerakan yang selalu dilakukannya bila ia merasa lega.

*
            “ Hei, Wina, lelaki tua itu mengikuti kita.” Lovi berbisik ke arah Wina. Wina menoleh ke belakang. Lelaki itu tengah menatapnya, dan tersenyum.
            “ Kamu mengenalnya?” Lovi bertanya heran. Lebih heran lagi ketika melihat Wina menggelengkan kepalanya.  Sudah tiga hari Lovi tak masuk sekolah. Wina pernah mengunjunginya sekali, namun tak pernah bercerita tentang keanehan ini.
            “Ia selalu mengikutiku, Lovi.” Keluh Wina.
            “Kamu sungguh-sungguh tidak mengenalnya?” tanya Lovi lagi. Langkah lelaki tua semakin dekat.
            Wina menggeleng kuat-kuat.
            “ Tapi aku seperti pernah melihat sepasang mata yang mirip dengannya.” Ujar Wina pelahan. Lovi menatap lekat sahabatnya.
            “ Sungguh?”
            Kali ini dilihatnya kepala Wina mengangguk.
            “Aku seperti mengenalnya.” Wina balas menatap Lovi yang terheran-heran. Inilah yang mengganggu pikirannya selama beberapa hari ini. Mata itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang selalu membuat hatinya terasa hangat.
            “Mungkin ia kakekmu yang hilang.” Bisik Lovi lagi. Wina melotot ke arahnya. Diliriknya jarak kakek itu hanya beberapa langkah di belakang mereka.
            “Runi...”
Suara lelaki tua itu membuat Wina dan Lovi menghentikan langkah. Mereka saling berpandangan. Selang sekian detik kemudian, lelaki tua itu berdiri di hadapan Wina.
“Runi, mengapa kamu menghindariku?” Sepasang mata coklat itu menatap penuh tanya ke arah Wina. Pertanyaan itu membuat Wina ternganga.
“Kek, temanku ini namanya Wina. Bukan Runi.” Lovi berusaha menekan tawanya yang nyaris meledak. Namun ekspresi wajah Wina membuatnya tak tega.
“ Wina?” Kakek tua itu memiringkan kepala dengan kerutan yang semakin dalam pada keningnya. “ Bukan Runi?” Wajah tua itu terlihat bingung.
“ Siapa Runi, Kek?” tanya Lovi penasaran. Diliriknya Wina tampak salah tingkah ditatap sedemikian rupa. Terlebih ketika kakek itu menunjuk ke arah Wina.
Sebuah bayangan berseragam putih abu bergegas mendekat.
“ Runi. Seruni adalah nama nenekku.” Sebuah suara dengan napas memburu  tiba-tiba menjawab.
Jose. Dada Wina berdebar. Sosok jangkung ketua OSIS itu berdiri tepat di sebelah lelaki tua yang tampak kebingungan. Kemiripan di antara mereka kian nyata.
 “ Mungkin kakekku teringat masa mudanya. Ia menderita Alzeihemer. Pikun. Tak banyak yang bisa diingatnya. Salah satunya  adalah kenangannya tentang nenekku.” Jose tersenyum. “ Wajahmu mirip dengan nenekku ketika muda. Terutama ponimu itu. Mungkin itu sebabnya kakekku  selalu pergi seorang diri dan membuntutimu. Rumah kami tak jauh dari sini.”
Wina tertegun. Ia menatap Lovi yang tersenyum simpul  ke arahnya.  Lovi  menyadari pipi Wina tampak lebih merah dari biasanya. Karena kini ada dua pasang mata coklat yang menatap Wina  dengan tatapan hangat.
Tamat.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^