Minggu, 08 Maret 2015

POHON BELIMBING WULUH ROFA, SUARA MERDEKA, JUNIOR, MINGGU 13 APRIL 2014


Pohon Belimbing Wuluh Rofa
Oleh : Liza P Arjanto

           
             Sreek.... Sreeek... Sreeek.
            Wajah Rofa bersungut-sungut. Ia sebal sekali. Tiap hari ia harus menyapu daun belimbing  yang rontok di halaman depan. Ia tak habis pikir, mengapa ibu menanam pohon belimbing. Bukankah ibu bisa menanam pohon palem atau tanaman hias lainnya yang tidak banyak merontokkan daun. Atau paling tidak ibu bisa menanam pohon mangga yang berbuah lebat seperti milik Angga. Bukankah rasanya akan lebih sedap bila memetik buah dari kebun sendiri?
            “ Wah, Rofa rajin sekali ya... Pagi-pagi sudah menyapu halaman.” Sebuah suara mengagetkan Rofa. “Eh, Rena... Ada apa?” Tanya Rofa sambil tersipu menerima pujian yang dilontarkan temannya itu. Rena adalah teman sekelasnya. Rumahnya tak jauh dari rumah Rofa. 

 
            “Eng, boleh minta bunga belimbing wuluh tidak?” tanya Rena kemudian. Mata beningnya melirik ke batang pohon yang sarat dengan buah belimbing bewarna hijau kekuningan yang bergelantungan. Beberapa tangkai bunga mungil merah menyembul dari batang pohon.
            Rofa menatap Rena dengan wajah heran.
“Bunganya? Untuk apa sih, Ren? Bukan buahnya? “
Rena menggeleng.
“Kata mamaku, bunga belimbing wuluh  bisa digunakan untuk obat batuk. Apa lagi untuk anak kecil, seperti Caca, adikku. Ia sedang diserang batuk.”
“Oh...” Rofa manggut-manggut. Tangannya langsung bergerak memetik beberapa tangkai bunga belimbing.
“ Eh, kayaknya sudah cukup deh.” Rena menghentikan gerakan Rofa. “ Tiga tangkai saja kata Mamaku. Keren ya, kamu punya pohon belimbing. Kata Mamaku, bukan hanya bunganya yang bermanfaat, tapi daun dan buahnya juga.”
“Oh, ya?” Rofa merasa senang.
“ Hihihi... kamu lucu deh. Punya pohon tapi nggak tahu manfaatnya. Oya, makasih ya.”  Rena tertawa sambil berlalu. Rofa menjadi malu bukan main. Ia berjanji akan mencari manfaat lain dari pohon belimbing yang selama ini sering membuatnya kesal.
            Sepeninggal Rena. Rofa menatap pohon belimbing dengan perasaan takjub. Selama ini ia hanya tahu manfaat belimbing wuluh untuk keperluan ibu memasak. Selain untuk membuat sayur asem terasa lebih sedap, juga sering digunakan ibu untuk membersihkan ayam dan ikan. Kata ibu, biar amis dan baunya berkurang.
*
            Anehnya, keesokan harinya, rasa kesal itu kembali muncul. Dengan langkah malas Rofa bersiap-siap menyapu halaman. Ia membayangkan tumpukan daun-daun belimbing yang rontok memenuhi halaman. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika mendapati halaman depan rumahnya telah bersih. Bukankah Ibu sedang sibuk di dapur? Lantas siapa yang menyapu halaman? Mata Rofa menjelajahi sudut rumahnya. Kemudian matanya terpaku melihat sosok kakek-kakek yang tengah menikmati sarapan di pojok teras rumahnya.
            Kakek itu setua kakeknya yang tinggal kota lain. Kurus dan tampak lusuh. Tak jauh dari kakek itu tampak sebuah karung goni yang tak kalah kumalnya. Mungkinkah ia salah satu dari pemulung yang sering mencari barang-barang tak terpakai di tempat sampah sekitar rumahnya? Apakah kakek itu yang telah menyapu halaman?
            “Rofa...”
            Terdengar suara Ibu memanggilnya. Rofa bergegas menghampiri ibu di dapur.
            “Nak, coba berikan ini pada kakek pemulung itu. Jangan lupa bilang terimakasih.” Ujar Ibu seraya menyerahkan selembar uang limaribuan.
            “Untuk apa, Bu? Kan kakek itu bukan pengemis.?” Tanya Rofa keheranan.
            “ Tadi kakek itu sudah membantu menyapu halaman. Memberi kakek itu jauh lebih baik daripada memberi kepada pengemis yang kerjanya hanya meminta-minta. Lagi pula, bukankah karena kakek itu sudah menyapu, hari ini Rofa tidak perlu lagi menyapu rontokan daun-daun belimbing itu.” Ujar Ibu sambil tersenyum.
            Dengan langkah riang ia menghampiri kakek itu. Dilihatnya kakek itu tengah duduk melamun sambil menatap buah-buah yang bergelantungan di pohon belimbing. Rupanya ia telah menyelesaikan makannya sejak tadi.
            “Kek, ini... Terimakasih ya.” Rofa menyodorkan uang pemberian ibunya. Kakek itu tersentak kaget. Lalu menggerak-gerakkan tangannya menolak pemberian Rofa.
            “Oh, tidak usah, Den. Kalau boleh kakek mau buah belimbingnya saja. Boleh?”
            “Tentu saja boleh, Kek. Kakek boleh mengambil sebanyak yang Kakek mau.” Jawab Ibu yang tiba-tiba berada di belakang Rofa.

***
Kakek itu tersenyum girang. Dengan penuh antusias ia memetik buah belimbing wuluh dan memasukkannya ke dalam kantong keresek besar yang ibu berikan. Sambil memetik belimbing, kakek itu bercerita tentang cucunya yang akan berulang tahun minggu depan. Kakek itu ingin sekali membelikan sebuah boneka untuk cucu kesayangannya itu.
            “Lantas belimbing ini akan Kakek apakan?” Tanya Ibu.
            “Dijual. Katanya ada rumah makan yang selalu membutuhkan belimbing wuluh untuk dimasak bersama ayam. Engg... apa ya mana masakan itu?” tanya Kakek itu sambil berpikir keras.
            “Garang Asem.” Jawab Ibu .
“Ya. Garang Asem...” Ujar Kakek itu bersemangat. “ Mudah-mudahan harga jualnya bisa lebih tinggi daripada di jual ke pasar. Eh, tidak apa-apa saya minta sebanyak ini, Bu?” tanyanya kemudian menunjuk ke arah kantong kresek yang kini penuh dengan belimbing wuluh segar dan besar-besar.
            Ibu tersenyum. “ Tidak apa-apa. Mudah-mudahan bisa membantu Kakek membeli boneka untuk cucu Kakek. Dan uangnya ambil saja, Kek. “
             Rofa yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan ibu dan kakek pemulung , sontak menyodorkan kembali selembar uang yang sejak tadi digenggamnya. Rofa melihat mata kakek pemulung itu berkaca-kaca. Berulangkali ia mendengar kakek itu berterima kasih. Rasa haru memenuhi hatinya.
            Sejak hari itu Rofa berjanji untuk merawat dan menyayangi pohon belimbing dengan sepenuh hati. Meskipun ia harus menyapu daun-daun yang berguguran setiap hari. Selesai
 


4 komentar:

  1. Balasan
    1. Terimakasih Mbak Naqi...
      Ini cernak kedua yang berhasil saya tulis di PT.
      Yang pertama Rahasia Sisi.
      Dua-duanya dibimbing langsung sama Mbak Nur.

      Hapus
  2. like this ... :D
    cerita yang manis ...

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^