Kamis, 05 Maret 2015

MISS CENAYANG

 Beberapa teman mungkin mengenal hobi saya yang suka menebak-nebak karakter orang.  Hobi ini menyenangkan. Seru dan bisa membuat beberapa teman bertanya-tanya, benarkah saya seorang cenayang? Hahaha...

Hobi ini baru saya hentikan, ketika saya bergabung di grup Penulis Tangguh. Sebabnya tak lain dan tiada bukan, karena gurunya, Mbak Nurhayati ternyata "cenayang" yang sesungguhnya. Nah, untuk mengingat, bahwa saya pernah menjadi cenayang--- meski gadungan, cerpen ini pun saya buat.

Selamat menikmati....



Majalah Gadis, No. 31. 18-27 November 2014



MISS CENAYANG
Oleh Liza P Arjanto

Miss Cenayang. Julukan itu melekat pada Niar, persis seperti rambut ekor kuda yang selalu menempel di belakang kepalanya. Membuatnya tampak beda dengan kebanyakan teman-teman sekelasnya. Jujur saja, Niar tampak lebih manis dengan ekor kudanya, namun juga tampak berbeda.
Julukan itu bermula ketika ia secara iseng membaca tulisan milik Caca. Caca adalah  teman sekelasnya.  Selama ini Caca dikenal ramah di mata teman-temannya. Tak ada yang menduga bahwa ia mempunyai kepribadian yang tertutup dan sulit mempercayai orang lain. Dengan wajah terheran-heran, Caca membenarkan tebakan Niar.  

Sejak peristiwa itu, baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan, teman-teman sekelasnya kerap meminta Niar untuk membaca kepribadian mereka melalui tulisan tangan ataupun tanda tangan. Hampir seluruh tebakan Niar benar. Maka teman-temannya pun menjulukinya Miss Cenayang.
Niar sendiri tak ambil pusing dengan julukan itu. Bahkan terkesan menikmati perannya. Tak jarang teman-temannya memanfaatkan kemampuan Niar untuk mengetahui kepribadian gebetan mereka. Termasuk Febby, sahabat sebangkunya.
Pagi itu Febby menyodorkan sebuah buku catatan. Dengan wajah merona malu campur penasaran, Febby menyodorkan buku bersampul coklat itu.
“ Ok, Miss Cenayang, mari kita uji kemampuanmu membaca karakter orang melalui tulisan.”
Niar menyambut buku itu dengan antusias. Ia sengaja tidak membaca nama yang tertera di sampul depan.  Karena ia sudah tahu, siapa gebetan Febby. Tidak ada yang tidak mengenal Dion. Anak kelas XII IPA 5 itu nyaris menjadi idola seluruh cewek-cewek di sekolahnya.
Dion memang cool. Ganteng,  cerdas  juga jago karate. Jangan salahkan bila banyak cewek yang rela melakukan hal-hal konyol untuk mendapatkan secuil perhatian dari Dion. Termasuk Febby.
Menurut Febby demi mendapatkan buku catatan Dion, ia rela menghabiskan jatah uang jajannya selama sebulan untuk menyogok, Kak Rere, sepupunya yang kebetulan satu kelas dengan Dion.
 Mata Niar menari-nari di atas tulisan yang tampak rapi itu. Jemarinya menyentuh tulisan itu baris demi baris. Kemudian dengan cepat ia membolak-balik tiap halaman buku itu dan  meraba halaman belakang tiap tulisan. Wajahnya yang semula tampak antusias pelahan berubah. Febby memperhatikan perubahan di wajah Niar dengan perasaan tak menentu. Dilihatnya kerutan di kening Niar semakin dalam. Febby tahu, Niar sedang berpikir keras.
Tiba-tiba Niar menatap wajah Febby.  Tatapannya terlihat aneh di mata Febby. Tiba-tiba saja, Febby merasa tak nyaman.
 “ Sorry, Feb. Eeng... kali ini aku gak yakin.” Niar mengalihkan pandangannya. Tangannya menyodorkan kembali buku itu ke tangan Febby. Febby menatapnya dengan tatapan heran.
“ Ah, yang beneeer? Serius dong ah. Aku jadi deg-degan nih.” Febby cemberut. “Jangan bilang, usahaku menyogok Kak Rere berakhir sia-sia.”
Niar menatap buku di tangan Febby. Diam-diam dia mengeluh dalam hati. Niar tahu betul tabiat sahabatnya itu. Bukan Febby namanya bila ia mau menyerah  begitu saja.
“ Okey deh, gini aja ya Nona  Tak Sabaran, buku ini aku bawa dulu pulang. Aku beneran gak yakin dengan analisaku barusan. Mungkin... nanti setelah aku meneliti lebih lanjut, aku bisa lebih yakin.”
Wajah Febby terlihat senang. Tapi tidak dengan Niar.
Diam-diam Niar memandang Febby dengan tatapan prihatin. Tiba-tiba ia merasa menyesal. Ia menyesali kemampuannya membaca kepribadian teman-temannya melalui tulisan. Seandainya... Seandainya saja ia tidak memiliki kemampuan itu, keluhnya dalam hati.
Kemampuan itu memang tidak datang begitu saja. Ia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempelajari buku Seni Membaca Tulisan Tangan yang ditemukannya di perpustakaan pribadi Om Budi.
@
“Bicaralah apa adanya, Niar.” Ujar Kak Ruwi ketika Niar mengeluh tentang perubahan sikap Febby  belakangan ini. Sejak Niar menolak memberitahukan Febby tentang hasil observasinya tempo hari, Febby terang-terangan menjauhi Niar.
Febby tidak hanya pindah tempat duduk, tapi juga menolak untuk bicara dengannya. Sikapnya ini membuat Niar merasa serba salah. Terlebih ketika mengetahui Febby menuduh Niar  juga menyukai Dion secara diam-diam. Niar merasa amat sedih.
Tepat dua minggu  setelah peristiwa itu, Niar memutuskan untuk menyampaikan hasil analisanya pada Febby. Ia tahu hal ini tidak mudah. Tidak baginya, apalagi bagi Febby bila mendengar  apa yang ingin diutarakannya. Namun ia berharap Febby mau mengerti kesulitannya selama ini.
Tepat ketika sekolah bubar, Niar menghampiri meja Febby. Febby yang tengah sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tasnya mengangkat wajahnya.
“ Feb, aku ingin bicara.” Ujar Niar sambil memegang lengan Febby. Sungguh tak enak rasanya berbicara dalam kondisi seperti itu. Tapi Niar harus melakukannya.
“ Tentang Dion?” Febby menatap Niar dengan tatapan mencemooh. Niar mengangguk pelan, kuncir kudanya hanya bergerak sedikit. Ia berusaha tersenyum manis menutupi kegundahan yang menggelitik perutnya.
“Gak perlu. Aku udah tau banyak dari Kak Rere. Dan malam minggu ini Dion berjanji mau datang ke rumahku.” Ada nada kemenangan dalam suara Febby. Ia sama sekali tidak memperhatikan perubahan wajah Niar. Niar tahu, wajahnya pasti tampak aneh. Tapi ia harus mengatakan semuanya. Apa adanya.
“Tapi Feb...” suara Niar tercekat. “ Dion itu mengidap penyakit....”
“Sudahlah... Aku tak membutuhkan ramalanmu. Aku yakin, Kak Rere tidak akan menjerumuskan adiknya sendiri.”
Febby meninggalkan Niar yang diam terpaku. Febby merasa Niar menatapnya dengan tatapan aneh. Namun, ia tak peduli.
@@
Sejak peristiwa itu, Niar tidak lagi berminat membaca tulisan yang disodorkan teman-temannya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu istirahat untuk membaca buku di perpustakaan. Apabila tidak sedang di perpustakaan, Niar  memilih aktif kongkow bersama teman-teman dari ekskul teater yang diikutinya.
  Lama- kelamaan teman-temannya pun tidak lagi menjulukinya Miss Cenayang. Apalagi sejak saat itu, Niar tidak lagi menguncir rambutnya. Ia memotong pendek rambutnya sehingga ia terlihat lebih fresh. Tidak saja terlihat lebih segar, Niar juga terlihat lebih cantik. Kini orang lebih mudah melihat mata kecoklatannya yang bundar dan kulit wajahnya yang bersih.
Niar tengah melap keringatnya  seusai latihan teater, ketika seseorang berjalan  menghampirinya.
“Aktingmu keren, “ Sebuah suara yang dalam dan lembut mengagetkan Niar.
Sejenak darah membanjiri wajah Niar. Pipinya merona ketika mengetahui asal suara itu.
“ Kak Dion? Eh. Oh... Makasih Kak,” Tiba-tiba Niar menjadi salah tingkah. “ Kakak sedang apa di ruangan ini?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
“Merhatiin kamu latihan. Eumh, kamu anak baru ya? Sepertinya dulu aku gak pernah liat kamu.” Dion memperhatikannya dari atas ke bawah. Diperhatikan begitu rupa oleh cowok paling keren sesekolah, mau tak mau membuat Niar merasa jengah.
“Engga kok. Saya teman Febby. Kami sekelas.” Teringat Febby, otomatis kepala Niar menoleh  ke arah pintu yang berada di belakang Dion.
Ia melihat sosok Febby yang berdiri di depan pintu aula yang setengah terbuka. Wajah Febby tegang. Dan sorot matanya tampak terluka. Ketika Dion membalikkan tubuhnya mengikuti pandangan Niar, Febby sudah menghilang.
“Feb...Febby.” Lirih Niar nyaris tak terdengar.
“Febby? Oh ya....  Dia cukup manis sebetulnya. Kalau saja sikapnya..” Dion tak melanjutkan kalimatnya.
“Memang kenapa dengan Febby?” Niar merasa penasaran.
“Enggak ah. Gak enak ngebahasnya.” Dion mengangkat bahu. “ Oya, siapa namamu?”
“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku jawab pertanyaanmu.” Suara Niar terdengar ketus. Sejenak Dion terkejut, sebelum akhirnya tubuhnya terguncang menahan tawa. Niar menatap Dion dengan pandangan tak suka. Sikapnya itu membuat tawa Dion meledak. Namun sesaat kemudian ia berhenti tertawa. Mimik berubah menjadi serius demi dilihatnya wajah Niar yang memerah.
“Sori...Sori...Sori... Maaf. Gak sengaja. Soalnya baru kali ini aku ketemu cewek antik kayak kamu.”
“ So?” Niar mengangkat bahunya.
“ Ok. Febby ya? Hemmm, akhir-akhir ini dia menganggap aku adalah pacarnya. Kemana-mana ia membuntutiku. Ia juga sering inbox di medsos. Sering nge-BBM. WA.“ Suara Dion terdengar seperti keluhan.
“ Loh, bukannya kalian memang jadian?”
“ Jadian? Kata siapa?” Dion terkejut.
“ Bukannya Kak Dion pernah dateng malam minggu ke rumahnya?” Niar teringat pembicaraanya dengan Febby tempo hari.
Dion menggelengkan kepalanya. Ekspresinya tampak lucu di mata Niar. Dan sikapnya kembali serius saat  menatap bola mata Niar.
“Tapi, ya aku pernah datang ke rumahnya. Malam minggu. Itu atas permintaan Rere. Ujarnya adik sepupunya itu sedang sakit, dan untuk membangkitkan semangatnya, ia ingin aku mengunjunginya.” Dion mengangkat bahu.
Niar menghembuskan napasnya cepat. Ia sulit mempercayai ucapan Dion. Karena selama ini ia sering melihat Febby berjalan bersama Dion. Jangan-jangan Dion berbohong. Tapi untuk apa?
Percakapan mereka terputus saat Kak Amel, pelatih teater,  menghampiri Niar dan mengajaknya pulang bersama.
Keesokan harinya, ketika bel baru berbunyi. Febby menghampiri Niar.
“ Jauhi Dion.” Ujar Febby dingin. “Please.” Sikapnya itu membuat Niar terperangah. Ia tidak mengerti perubahan sikap sahabatnya itu. Dulu Febby anak yang lucu dan gemar becanda. Tapi sejak ia berhubungan dekat dengan Dion, pelan-pelan sikapnya berubah.
Selama ini Niar tidak memperhatikan perubahan Febby. Selain karena Febby menjauhinya, juga karena Niar tengah berusaha untuk melepaskan diri dari kemampuannya membaca sikap orang. Ia ingin menilai orang dengan adil. Ia berusaha untuk membebaskan dirinya dari prasangka-prasangka berdasarkan ilmu yang dipelajarinya. Dan itu bukan main sulitnya.
Wajah-wajah yang melintas di depannya, tulisan-tulisan tangan yang dibacanya sepintas lalu, tampak bagai kartu-kartu tarot yang terbuka di hadapannya. Ia bisa dengan leluasa menebak sifat-sifat orang hanya dengan memperhatikannya sejenak. Dan Niar tengah berusaha menghilangkan semua itu dengan banyak membaca buku ataupun aktif di ekskul teater. Sejauh ini, rasanya, ia hampir-hampir berhasil.
Buktinya,  perubahan sikap Febby berhasil membuatnya terkejut. Tapi benarkah Niar bisa membuang kemampuannya itu seluruhnya? Niar tak yakin.
@@@
            Selasar sekolah terlihat sepi, ketika lamat-lamat Niar mendengar suara pertengkaran yang berasal dari sebuah kelas yang kosong. Ia mengenali suara itu. Pelahan-lahan ia menghampiri pintu kelas tersebut.
            “ Kak Dion, sekali lagi kuminta, jangan dekati Niar.”
            Terdengar suara tawa Dion.
            “ Jangan ganggu dia...” Suara Febby terdengar seperti memohon.
            “Baiklah. Tapi ada syaratnya.” Suara Dion mengancam.
Mendengar ini dada Niar  berdegub. Ada sesuatu yang tak beres. Apakah ini ada kaitannya dengan tulisan Dion yang dibacanya tempo hari?
            Suara langkah kaki  terdengar mendekati pintu. Niar bergegas bersembunyi di balik dinding kelas. Ketika langkah itu menghilang, Niar  tidak menemukan sosok Febby di kelas tersebut.  Padahal Niar berharap Febby masih di sana. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dilontarkannya. Mendengar suara Febby tadi, entah mengapa, ia merasa rindu sosok Febby yang dulu.
            Niar memutuskan untuk menemui Febby di rumahnya sepulang sekolah. Ia tak ingin berlarut-larut dalam situasi yang tak nyaman. Ia harus tahu apa arti kata-kata Febby yang tadi didengarnya.
            Rumah Febby tampak sepi. Namun sesosok bayangan yang tengah melamun di pinggir kolam ikan itu menarik perhatian Niar.
            “Febby...” tegur Niar hati-hati.
            “Oh, kamu? Ngapain ke sini?” Febby terkejut.
            “Aku kangen sama kamu, Feb.” Mata Niar berembun. Febby mengalihkan pandangannya ke arah ikan-ikan Koi yang melenggang memamerkan keanggunannya berenang di kolam kecil itu. Febby pun merasakan hal yang sama. Namun kehadiran Dion membuat semuanya berubah.
            Febby menghembuskan napasnya pelahan. Perlahan ia memalingkan wajahnya ke arah Niar. Wajahnya tampak serius.
            “ Apa yang dulu mau kamu katakan tentang Dion?”
            Niar tergugu. Ia meneguk ludah yang terasa kental di tenggorokannya.
            “ Katakanlah, Niar, please ?” Febby menggenggam tangan Niar,
            Niar menggigit bibirnya pelan. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengusir rasa yang menyesakkan dadanya.
            “ Dari hasil analisa yang kulakukan tempo hari, aku curiga, Dion mengidap penyakit kejiwaan. Dalam kondisi tertentu, ia sangat labil. Dan berbahaya. Tapi....tapi.... aku harap, aku salah.” Niar menatap Febby.
            Febby memejamkan matanya. Ketika ia membuka matanya, Niar melihat luka yang dalam di dua mata sahabatnya itu.
            “Andai aku mau mendengarmu dulu. “ keluh Febby. “Andai aku tak dibuat gila oleh perasaanku padanya.” Sebulir air menitik dari sepasang telaga itu. Niar merasakan kepedihan yang coba Febby sembunyikan.
            “Feb, apa yang terjadi? Aku ... aku mendengar pertengkaran kalian tadi di sekolah.?” Niar merasa harus tahu apa yang terjadi. Febby terkejut. Kemudian ia memeluk Niar dengan erat.
            “Aku menyayangimu, Niar. Aku tak ingin kamu terluka.”
            Sejenak Niar membeku. Ia tak mampu mencerna kata-kata Febby.
            “Terluka? Apa maksudmu Feb?”
            Febby diam. Pelahan ia melepaskan pelukannya. Ia membalikkan tubuhnya dan mengangkat t shirt bagian belakang. Niar terbelalak ketika menyaksikan lebam kebiruan yang bersarang di punggung putih sahabatnya itu. Airmatanya merebak.
            “Dia-kah yang melakukan semua  ini padamu?” Dada Niar sesak oleh amarah yang menggelegak. Febby menggangguk.
            “Kenapa kamu diam? Kenapa kamu tak melarikan diri? Kenapa....?”  Suara Niar tercekat.
            “Aku juga menanyakan hal yang sama, Niar.” Ujar Febby ketika berhasil membendung tangisnya. “ Pada mulanya aku mencintainya. Tapi sekarang,  aku takut. Teramat takut.”
            Niar menatap sahabatnya nanar. Kemudian mendekapnya erat.  Airmata jatuh di pipi, menitik hingga ke dasar hatinya.
 Jauh di atas sana langit senja merona jingga. Sebentar lagi langit berubah kelam. Namun jauh dalam hati Niar, ia lebih takut pada kegelapan yang memasung jiwa sahabatnya. Tamat.
           



12 komentar:

  1. Percikan itu panjangnya berapa sih Mbak Liza? Tampilannya di Gadis kan cuma selembar ya. Ini saya save ke word kok nyampe 8 halaman...

    BalasHapus
  2. Ini bukan percikan mbak Wahyuti.
    Tapi cerpen. Hehehe..
    Rubrik Percikan max 5 hal.

    BalasHapus
  3. Wah KDRP dih! Kekerasan Dalam Ranah Pacaran
    :)
    Suka sama cerpennya.

    BalasHapus
  4. hehehe... dan ternyata ada kan Mbak Ayuni.
    Trims udah mampir

    BalasHapus
  5. wowww...kereeeen banget mbakyu yang cantik ini. Bisaa gaak ya aku membuatnya ?? Hhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Tanty, seneng deh dikunjungi dirimu.
      Ayo mulai bikin cerpen. Insya Allah, bisaaaa

      Hapus
  6. Balasan
    1. Assalamu alaikum, kapan ya aq nulis hihihi dr dulu dah janji, apa nulis dulu be ada inspirasi atau inspirasi dulu br nulis???kadang lg kerja psn, inspirasi lewat, tp ga ditulis hehheee

      Hapus
    2. Wa'alaikum salam... wah maaf baru baca komen ini, Teh Tenri.
      Saya biasanya ada ide, trus nulis, mengalir begitu aja. Tapi, biasanya untuk melengkapi informasi, saya juga riset.

      Hapus
  7. wooow, aku salah menebk endingnya. keren mba. aku dulu langganan gadis dan selalu suka dengan cerpen2nya. ini juara deh, apik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir di sini mbak Windi

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^