Kamis, 26 Maret 2015

KARIN, Majalah GADIS Maret 2015


 Inspirasi cerpen ini berasal dari cerita putri sulung saya, Karimna, tentang salah seorang temannya yang senang sekali berada di perpustakaan. Bukan untuk membaca. Tapi untuk menarik perhatian karyawan perpustakaan.
Lalu,
Sebuah kenangan. Tentang sepasang mata yang berbinar. Bukankah kenangan tak pernah mati?



KARIN
Oleh : Liza P Arjanto

            Karin menatap sahabatnya, Rara, dengan pandangan heran. Tidak biasanya Rara bersikap seaneh ini. Bayangkan saja, hampir setiap usai jam sekolah ia menolak langsung pulang sebagaimana biasanya. Ia malah memilih menghabiskan waktu berlama-lama di perpustakaan.
            Ini sungguh tak biasa. Sejak kapan anak itu tiba-tiba doyan membaca. Setahu Karin, Rara tidak suka membaca. Perpustakaan selalu menjadi tempat terakhir yang dikunjunginya. Itu pun  hanya bila ada tugas yang mengharuskannya mencari informasi di perpustakaan.
            “Rin, kamu pernah melihat karyawan perpustakaan yang baru?” tanya Rara.
            “Mas Didit?” Karin menjawab acuh.
            “Iiih, bukan ... Mas Didit  sih cuma bantu-bantu. “ Rara membisiki telinga Karin. Dan menyebutkan sebuah nama. “ Pernah liat orangnya?” tanya Rara kemudian. Melihat Karin menggeleng, Rara tersenyum puas. “Makanya, nanti pulang sekolah temenin aku ke perpustakaan.”

            Penasaran dengan perubahan sikap Rara, Karin pun memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan. Sejujurnya, Karin bosan berada di perpustakaan sekolahnya. Karena hampir semua koleksi novel yang dimiliki perpustakaan sudah dibacanya sejak ia berada di kelas X. Dan selama dua tahun ia berada di sekolahnya ini, koleksi buku novelnya tak juga bertambah.
            Entah mengapa, sepertinya pihak sekolah tak menganggap penting keberadaan buku-buku fiksi di antara koleksi buku-buku paket yang membosankan itu. Padahal menurut Karin, seharusnya sekolah menyediakan buku-buku fiksi yang keren, sehingga siswa tertarik untuk datang dan menghidupkan perpustakaan. Apalagi  di sekolah swasta favorit seperti ini.
            Tapi rupanya, Rara tidak membutuhkan koleksi novel-novel keren untuk tertarik mengunjungi perpustakaan. Daya tarik perpustakaan bagi Rara ternyata berupa sosok karyawan perpustakaan yang baru bekerja belum genap sebulan di perpustakaan ini.
            Ternyata bukan hanya Rara. Karin terheran-heran melihat perpustakaan yang biasanya sunyi senyap dan berdebu, menjadi ramai. Beberapa siswi tampak berkelompok-kelompok memenuhi bangku-bangku yang sudah disediakan. Tidak ada yang serius membaca. Kebanyakan hanya cekikikan dengan mata jelalatan ke sana kemari.
            Hampir saja Karin mengira kantin berpindah tempat. Langkah kakinya melambat, jika saja Rara tidak menarik tangannya, ia memilih berlalu dari ruangan tersebut. Ia tak pernah nyaman menjadi pusat perhatian.
            “Ayo, jangan perhatikan mereka,” bisik Rara. Karin mengikuti langkah Rara dengan ragu. Berusaha mengabaikan tatapan mata yang melihat ke arahnya dengan penuh perhatian. Rara mengajaknya berjalan menuju rak buku-buku fiksi.
            Mata Karin membulat ketika ia menemukan novel-novel baru di antara koleksi lama yang kusam dan lusuh. Tanpa sengaja matanya menemukan sebuah buku yang familiar baginya.  K. Maharani. Wajahnya tersenyum penuh rasa heran. Namun sejumlah koleksi novel terbaru yang ditemukannya berhasil mengalihkan perhatiannya.  Rara memperhatikan Karin yang seolah tenggelam dalam dunianya. Lalu melangkah meninggalkan Karin.
            Karin memutuskan memilih dua dari lima buah novel yang begitu menarik perhatiannya. Ia tak menyadari sepasang mata di balik bingkai yang memperhatikannya sejak ia melangkah memasuki ruang perpustakaan.
            Sepasang mata itu pula yang kini membuat Karin terpana. Dengan gugup ia menyodorkan dua buah buku yang telah dipilihnya dengan susah payah. Sebuah novel klasik karya Alexander Dumas, The Count of Monte Cristo dan sebuah novel menarik karya penulis lokal yang tengah naik daun.
            Karyawan baru itu seperti hendak mengucapkan sesuatu ketika Karin dengan terburu-buru melangkah meninggalkannya. Matanya mencari-cari sosok Rara. Dilihatnya Rara tengah sibuk membolak-balik majalah tanpa minat.
            Senyum Rara mengembang ketika melihat Karin duduk di sebelahnya dengan wajah  merah. “Gimana, ganteng kan?” bisiknya. Karin mengangguk kaku. Rara terkekeh pelahan, ia tak menyadari wajah Karin yang berubah-ubah. Dan dengan heran mengikuti langkah Karin yang bergegas meninggalkan ruang perpustakaan.
            Keesokan harinya, ketika Rara mengajak Karin mengunjungi perpustakaan, dengan tegas Karin menolak. Begitu juga ketika waktu peminjaman buku telah tiba. Karin malah  meminta tolong Rara untuk mengembalikan buku-buku tersebut.
            “ Mengapa, Rin? Kok kayaknya alergi banget ke perpustakaan? “ tanya Rara heran. Padahal sebelumnya Karin tertarik pada koleksi-koleksi baru perpustakaan. Itu terlihat jelas ketika Karin kebingungan memilih koleksi yang akan dibawanya ke rumah.
 Diliriknya Karin yang terdiam. Tiba-tiba Rara menyadari,  Karin jauh lebih pendiam daripada sebelum ia mengunjungi perpustakaan tempo hari. Rara pun teringat, wajah Karin yang selalu berubah setiap kali ia menceritakan tentang Pak Yosep, karyawan perpustakaan baru yang  berwajah mirip Reza Rahardian itu.
 Ia bahkan tak tertarik untuk mendengarkan cerita Rara. Ini mengherankan. Hampir seluruh  teman-teman cewek di sekolahnya selalu mencari cara untuk menarik perhatian sosok yang mirip aktor yang selalu mendapat pujian para kritikus film itu. Tapi tidak dengan Karin.
Karin menyadari kebingungan Rara. Tapi ia sendiri tidak dapat mempercayai penglihatannya. Ia sungguh tak menyangka akan bertemu lagi dengannya. Tidak di sekolah ini.
@
 Sekolah sudah sepi ketika Karin melangkah keluar kelas. Rara yang semula tak terlihat tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Ayo, temani aku ke kantin. “ ajaknya kemudian. Tanpa menunggu persetujuan Karin, Rara menarik tangannya menuju kantin. Semula Karin ingin menolak. Tapi wajah Rara yang penuh rahasia membuatnya mengalah.
 Bukankah selama ini, Rara selalu berbaik hati menemaninya. Rara juga tak pernah keberatan setiapkali keterbatasan tubuhnya membuat Rara menjadi lebih repot dari pada yang seharusnya.
Suasana kantin pun sepi. Hanya ada satu beberapa aktivis OSIS yang tengah mendiskusikan sesuatu. Rara mengajaknya duduk di pojok kantin dan memesan minuman. Ada tiga gelas jus yang dibawa Rara.
Jus alpukat pastilah untuk Karin.  Karin tersenyum, rupanya Rara memesan jus kesukaannya. Jus tomat itu pastilah  untuk Rara. Ia menggemari segala macam jenis jus. Tapiiii, untuk siapakan jus jeruk itu? Karin masih menebak-nebak ketika sebuah suara hangat menyapanya.
“Apa kabar, Karin?”
Deja Vu.
Suara itu mengingatkan Karin pada sebuah suara yang begitu akrab di telinganya. Bertahun-tahun yang lalu. Ketika itu ia baru saja membuka mata. Suara dan wajah penuh sesal itu adalah hal yang pertama masuk ke dalam memorinya. Kemudian setelah itu ia jatuh pingsang berulang kali setelah setelah mendapati kenyataan pahit yang dihadapinya.
Kecelakaan itu menjadi mimpi buruk yang menghantui Karin sepanjang hidupnya. Ia tak bisa melupakan peristiwa tabrakan yang hampir merengut nyawanya. Ia masih mengingat dengan jelas, pemuda itu melaju dengan cepat dan menabrak motor yang dikendarainya dengan pelan. Tabrakan itu tak terhindarkan. Dan itu menjadi salah satu hal yang paling disesalinya. Ah, andai saja boleh memilih, Karin tentu memilih kehilangan nyawa daripada kehilangan sebelah kakinya.
Indahnya masa remaja tiba-tiba tercerabut begitu saja. Ia kehilangan seluruh kegembiraan dan mimpi-mimpinya. Keinginannya untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke mancanegara lewat seni tari, buyar seketika.
Ia tidak akan pernah bisa melenggang-lenggok membawakan tari Jaipong dengan iringan karawitan. Tidak ada lagi panggung-panggung untuknya. Tidak ada lagi tepuk tangan membahana setiapkali ia menghentak panggung dengan gerakan-gerakan gemulainya yang menyatu dengan tembang-tambang lagu Parahyangan.
Berbulan-bulan ia tenggelam dalam penyesalan panjang. Ia membenci siapapun. Termasuk dirinya. Namun kebenciannya pada pemuda itu jauh lebih hebat dan lebih dalam.  Ia selalu menjerit setiapkali pemuda itu menghampirinya. Pemuda itu adalah mimpi buruknya. Mimpi buruk yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi.
Herannya, pemuda itu seolah tak peduli akan kebencian Karin. Ia tak peduli caci maki yang Karin lontarkan. Ia tak ambil pusing dengan penolakan Karin. Seperti matahari yang setia menyinari bumi. Ia selalu berkunjung ke rumah sakit. Ia pun selalu menemani Karin sepulang dari rumah sakit.
Pemuda itu tidak saja membujuk Karin belajar berjalan dengan menggunakan kaki palsu dan kruk penyangga tubuh, ia membantu Karin untuk menemukan hobi yang baru.
“Ini tulisanmu, Karin?” tanya Kak Yosep suatu hari. Karin terperanjat. Tiba-tiba saja wajahnya memerah. Ia menyesali keteledorannya sehingga kertas itu tercecer di meja teras.
Sejak ia bisa berjalan dan belajar menerima takdirnya. Kak Yosep mulai mengurangi jadual kunjungannya ke rumah Karin. Karin mengerti, Kak Yosep harus mengejar materi kuliahnya yang terbengkalai karena selalu menemaninya selama berbuan-bulan.
Selama berbulan-bulan itu pula Kak Yosep mengajarinya pelajaran-pelajaran sekolahnya yang tertinggal. Karena keterbatasan fisiknya, mama dan papa memutuskan untuk meng-home schooling-kan Karin. Kak Yosep bersedia menjadi gurunya hingga ia lulus sekolah menengah pertama.
Hampir setahun lamanya Kak Yosep hadir dalam kehidupan Karin. Diam-diam Karin mengagumi pemuda yang usianya terpaut lima tahun di atasnya. Ia pun mulai memaafkan kecerobohan Yosep yang mengakibatkan sebelah kakinya harus diamputasi. Setiapkali Kak Yosep berhalangan hadir karena kesibukannya di kampus, Karin mengisinya dengan menulis diari ataupun di kertas-kertas yang ia temukan.
Dan kali ini ia menyesali kecerobohannya itu. Dengan wajah merah padam, ia merebut kertas berisi curahan hatinya itu.
“Tulisanmu bagus sekali, Karin. Sepertinya kamu memiliki bakat menulis.” Kak Yosep menatapnya dengan wajah berbinar. Sesaat Karin terpana.
“Sungguh, Kak? “ tanyanya kemudian.
Kak Yosep mengangguk meyakinkan. “Cobalah menulis sebuah cerpen. Kak Yosep ingin tahu, bagaimana caramu menulis.”
Sejak saat itu Karin mulai serius mempelajari cara menulis yang baik. Kak Yosep membantunya dengan menyediakan majalah-majalah yang bisa dipelajarinya. Dan semua upayanya itu membuahkan hasil. Suatu hari, sebuah majalah remaja menghubunginya dan menyatakan naskah cerpennya layak untuk dimuat pada edisi yang akan datang.
Sepanjang hari ia menunggu kehadiran Kak Yosep. Namun, Kak Yosep tak pernah datang mengunjunginya lagi. Tidak juga menghubunginya lewat telepon dan selular. Pemuda itu menghilang begitu saja ketika Karin baru saja menemukan dirinya yang baru.
“ Karin.”
Kak Yosep menggenggam tangan Karin yang dingin. Karin membuang mukanya. Matanya mencari-cari sosok Rara. Ia ingin segera pulang. Ia ingin menghilang dari hadapan pemuda yang pernah mengisi hatinya. Pemuda yang tak pernah benar-benar berlalu dari hatinya.
“Maafkan, aku.”
“Tak perlu meminta maaf, Kak. Aku mengerti. Teramat mengerti.” Ujar Karin dingin. Hatinya terasa sesak. Hampir tiga tahun lamanya ia mencoba mengerti akan hal itu. Pengertian itu mengantarkannya pada kenyataan yang jauh lebih pahit daripada kehilangan sebelah kakinya.
“Tugas Kak Yosep telah selesai. Aku sudah bisa menerima takdirku dengan baik. Aku sudah tak memiliki lagi keinginan untuk bunuh diri akibat kecelakaan sialan itu.” Suara Karin bergetar.
“Kecelakaan itu juga membuatku mengerti banyak hal. Kak Yosep tak perlu menghawatirkan aku lagi. Aku tak akan merepotkanmu lagi.”
 Karin mengangkat wajahnya dan melihat luka di mata pemuda itu.
“Karin, maukah kamu mendengarkan ceritaku?” Suaranya terdengar memohon.
Karin membuang wajahnya ke samping. Menekan dalam-dalam rasa yang menggelitik hatinya. Bukankah selama ini, ia baik-baik saja. Namun mengapa tiba-tiba ia merasa usahanya untuk melupakan pemuda itu menjadi sia-sia belaka, sesalnya dalam hati. Ia membiarkan pemuda itu bercerita.
“Tanpa kuduga, permohonan beasiswa ke luar negri  yang kuajukan, diluluskan. Aku harus mengurus keberangkatanku secara mendadak. Aku tak sempat  memberitahumu. Semua terjadi begitu saja. Dua tahun lamanya aku berada di Sorbone. Dan aku tak bisa melupakanmu. Namun sayang, kartu-kartu pos yang kukirim tak pernah mendapat balasan. Begitu pun ketika aku mencoba menghubungimu lewat email, mencari akunmu difacebook. WA. BBM. You’re losing. I have lost contact.” Yosef  memandangnya tajam.
 “Kartu-kartu pos?” Karin mengangkat alisnya. Ia mengabaikan kalimat-kalimat selanjutnya. Karena terlanjur kecewa, ia mengganti nomer kontaknya. Ia tak ingin berharap banyak. Ia ingin menjadi pribadi yang baru.
“Ya. Aku mengirimimu setiap awal musim berganti.” Keningnya berkerut. Nyaris sebuah kebiasaan, tangannya membetulkan letak kacamata yang sudah bertengger sempurna di hidung mancungnya. Karin memperhatikan gerakan itu. Diam-diam ia mengeluh dalam hati. Debaran dadanya tak kunjung berhenti.
“Kami pindah rumah. Papa ditugaskan di kota ini. Dan aku memutuskan untuk memasuki SMA ini.” Karin menjawab penuh nada sesal. Tiba-tiba ia menyadari satu hal yang aneh. “ Mengapa Kak Yosep bekerja di sini?”
Yosep tersenyum nakal. Namun buru-buru menjawab ketika melihat mata Karin menatapnya serius.
 “Sekolah ini milik ayahku. Aku hanya bertugas membantu menarik siswa untuk menyukai perpustakaan. Eummmh, sejauh ini sepertinya berhasil. “ Senyum di wajah berkacamata itu tiba-tiba memudar. “Kecuali untuk menarik seorang Karin Maharani. “
Sepasang mata tajam itu memerangkap mata Karin. Deburan indah yang dulu pernah ada, kembali menalu di hati Karin.
“Benarkah yang ada di hadapanku ini, seorang penulis remaja yang tengah naik daun, K. Maharani?” Goda pemuda itu lagi.
Karin memukul lengan yang dulu kerap membantunya berdiri dan  menjadi penopang tubuhnya saat belajar melangkah. Lengan itu pula yang kerap memasangkan kaki palsu itu ke tungkai kaki kanannya yang tersisa pasca operasi. Lengan itulah, yang dulu kerap membuat luka di kaki dan di hatinya mengering dengan cepat.
Lengan yang dulu amat dirindukannya.  Karin menatap sepasang mata teduh itu. Tiba-tiba saja ia ingin tenggelam di dalamnya.
Tamat.


9 komentar:

  1. Kayaknya setiap perpus harus punya penjaga yang cantik dan ganteng nih, biar pada semangat baca.
    :D

    Keren, mbak ceritanya.

    BalasHapus
  2. Saya curiga juga gitu mbak Ayuni... Hehehe
    Btw, makasih ya udah mampir

    BalasHapus
  3. Ah sampeyan, Jeng...siapa juga yang sanggup menepis pesonanya Reza Rahardian? Itu makhluk membuat hdup menjadi lebih hidup hahaha....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karin juga engga, ternyata... Hahaha...
      Terimakasih sudah mampir mbak Sri

      Hapus
  4. Cakep cerpennya. Selamat ya mba. Turut senang.

    BalasHapus
  5. Makasih sudah bersedia mampir dan baca.
    Alhamdulillah, bila bisa menikmati.

    BalasHapus
  6. aih cerita yang menarik. pas dengan gerakan literasi sekolah hhehehe...

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^