Jumat, 06 Maret 2015

JANGAN MAU KALAH, GADO-GADO FEMINA, N0.49. 13-19 DES 2014

Interaksi dengan anak-anak kerap menimbulkan sensasi sejuta rasa. Seperti permen nano-nano. Semua rasa berkumpul menjadi satu dalam sebentuk hati yang tak pernah bisa membenci. Tersebab, mereka-lah buah hati bagi kedua orangtuanya.










Jangan Mau Kalah
Oleh Liza P Arjanto

“Jangan mau kalah sama anak-anak.”  Demikian pesan ibuku dulu. Jangan mau kalah ini dalam prakteknya adalah jangan pernah takluk pada kebandelan anak. Jangan pernah menyerah pada tangisan anak. Dan seringkali diakhiri dengan ultimatum sebagai wujud hukuman.
Di antara semua anakku yang berjumlah enam orang, anak keduaku-lah yang paling sering menuai hukuman. Sayangnya, hukuman demi hukuman yang dijalaninya dengan konsekuen seringkali tidak membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan.

Pertambahan usia tidak membuatnya semakin mengerti, mengapa sejumlah hukuman harus ia terima. Ia tidak juga memahami mengapa hukuman itu dijatuhkan atas dirinya. Alih-alih mengerti dan memahami, ia malah merasa dianaktirikan. Dan sebagai bentuk protesnya, ia pun semakin lihai memancing dan mengaduk-aduk emosi orangtuanya.
Seperti malam itu, ia kembali berhasil membuatku marah dengan sikap dan nada bicaranya yang menurutku kurang ajar dan tidak beretika. Dan sebagai bentuk hukuman, spontan saja aku mengatakan, bahwa besok ia tidak akan mendapat uang jajan. Jadi ia harus membawa minuman dan makanan untuk makan siangnya. Minta maafkah ia, karena telah membuatku marah? Oh, tentu saja, tidak. Malam itu aku tidur dengan perasaan kesal yang menggunung.
Dan apa yang terjadi keesokan harinya? Ia juga meminta maaf.  Jangankan membawa bekal untuk makan siang, anakku ini malah sarapan dengan porsi yang jauh lebih sedikit dari biasanya. Ia pun masa bodo dengan kemungkinan menderita kelaparan saat di sekolah.
“Sudah biasa lapar kok,” ujarnya tak acuh ketika aku mengingatkannya untuk membawa bekal makan siang.
Sikapnya ini jelas membuat aku semakin dongkol. Namun di balik rasa dongkol itu, rasa khawatir pun tidak jua mau hilang. Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa pura-pura tidak tahu beratnya perjalanan yang harus ditempuhnya ke sekolah.  Sepertinya jarak 6 km bersepeda pulang-pergi dalam kondisi lapar dan tubuh letih bukanlah ide bagus. Semarah apapun seorang ibu, rasa khawatir akan dengan mudah melarutkannya.
Maka perang perang batin pun dimulai. Antara memberikan uang jajan atau membiarkannya menanggung akibat dari ulahnya. Antara keinginan untuk mengantarkan makanan dengan keinginan untuk tetap jadi pemenang dan membuatnya kelaparan hingga sore hari.
Tapi sungguhkah aku jadi pemenang dalam perselisihan itu? Bukankah pada hakikatnya, setiapkali memutuskan sebuah hukuman untuk anak, maka pada saat yang sama, orangtua pun menjadi pesakitan? Si anak merasa ‘sakit’ atas hukuman itu. Dan orangtua pun merasa ‘sakit’ karena harus belajar konsisten pada apa yang telah diputuskan?
Setelah pergulatan batin yang menguras emosi. Akhirnya, aku pun memilih untuk mengalah. Membuang seluruh egoku. Membuang jauh-jauh keinginan untuk menang. Mungkin benar, aku telah pilih kasih. Mungkin benar aku tidak konsisten dengan hukuman yang telah kuucapkan.
Namun dengan mengantarkan sendiri  makanan dan minuman ke sekolahnya. Menempuh jarak lumayan jauh dengan sengatan matahari yang menyengat, aku berharap anakku itu memahami satu hal. Bahwa, setiapkali ia mengayuh sepedanya untuk pulang, ada sebentuk hati yang selalu mencintainya tanpa syarat. Aku hanya ingin ia menyadari, bahwa ia dicintai.
Tahukah, ternyata, membuat anak merasa dicintai,  kadangkala lebih memberi dampak positif pada anak. Sekalipun aku tetap tidak memberinya uang jajan, namun makanan dan minuman yang kuantar sendiri pada saat yang tepat, membuatnya merasa berharga. Dan ia menunjukkannya lewat sikapnya yang berubah menjadi lebih baik.
Tamat


7 komentar:

  1. Huwaaa... Pengen nangis baca ini. Secara ngalami yang nggak jauh beda. :'(
    Moga kita tetap kuat ya Mbak...

    BalasHapus
  2. aamiin.... semoga kita kuat ya Mbak Laila, Anak-anak emang suka memancing esmoseh... hehehe
    trims ya udah mampir.

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Hihihi.... sepertinya semua ibu mengalami hal yang sama ya, Mbak Naqi.
      Teraduk-aduk.
      Trims udah mampir..

      Hapus
  4. Beberapa kali mengalami dilema seperti ini. Gak mesti saat berselisih sih mba. Misal ketika pagi sudah merepet panjang ttg ini itu yg jangan sampai tertinggal, eh yang tertinggal justru yg urgen, misal mau ada latihan drumband, pianika tertinggal. Binguuung enaknya, dianterin atau jangan ya, hehe.

    BalasHapus
  5. Hehehe... Romantika menjadi ortu ya mbak Yosi.
    Saya juga sering banget ngalamin hal itu.
    Hehehe, cuma saya seringnya males nganterin tempat pinsil atau buku2 yg ketinggalan. Khawatir mereka jadi terbiasa.
    Ah, kadang saya juga gak ngerti cara menghadapi mereka.

    BalasHapus
  6. ahhh.... ga tahu harus ngomong apa.
    sy nih suka eyel2an sma nak2 krn pingin mendisiplinkan mereka.

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^