Rabu, 04 Maret 2015

SENJA DI KWATISORE, MAJALAH FEMINA ED. 20. 17-28 MEI 2014




Cerpen Pertamaku di Majalah Femina.

Aku ingat, menuliskannya dengan hati  berdegup. Berulang kali kulirik selembar koran yang memuat informasi tentang Gurano Babintang. Membayangkan sebuah rumah yang didirikan di atas air laut. Untuk sebuah cinta. Dan senja pun turun berkilau. Aku terpaku.
 Selamat menikmati.




Senja Di Kwatisore
Oleh : Liza P Arjanto


            Reina memaku pandangannya ke arah punggung lelaki muda berkulit gelap nan tegap di hadapannya. Lelaki itu, Kai, seolah tenggelam dalam dunianya. Kedua tangannya bergerak cekatan memaku bilah-bilah papan pada tiang kayu besi yang menjadi rangka rumah.
            “Reina, rumah ini akan menjadi rumah yang luar biasa. “ Tiba-tiba Kai berkata. Mata hitamnya yang tajam menatap wajah Reina. Reina mengalihkan pandangannya. Tak mampu menatap mata Kai. Ia tak ingin melukai Kai. Tapi Kai tak mungkin didustai. Kai tahu segala hal  tentang Reina. Seperti ia mengetahui garis-garis yang menggurat telapak tangannya sendiri. Hanya satu hal yang Kai tidak tahu. Dan Reina ingin menyembunyikannya dari Kai.

 
            “Rumah ini untukmu.” Ujar Kai bangga. Reina mencoba tersenyum. Matanya menelusuri dinding yang baru separuh jadi.  Rumah itu lebih pantas disebut gubuk. Terdiri dari beranda luas yang tertutup atap rumbia. Kai hanya membangun sebuah kamar dalam rumah itu. Kamar yang berdinding kayu dan berjendela anyaman rumbia yang memungkinkan angin  memeluk penghuninya sepanjang waktu.
            Reina tahu Kai mencintai dirinya sebesar cintanya pada lautan biru di hadapannya. Reina tak ragu sedikit pun tentang kesungguhan lelaki itu. Lelaki yang kini tengah menakar raut wajahnya dengan kerut yang dalam.
            “Ada apa Reina?” Bola mata hitam itu melembut. Sesungguhnyalah ia lelaki yang lembut. Reina mendesah. Kepalanya mengeleng pelan.
            Matahari senja memantulkan bias-bias jingga  di Teluk Cendrawasih. Langit yang belum sepenuhnya gelap menjelma menjadi pentas warna menakjubkan yang membuat Kai sejenak melupakan pertanyaannya.
            Reina menatap cahaya yang pelahan memudar. Bintang-bintang yang berpendaran muncul dalam jumlah tak terhingga. Sesaat ia ingin lenyap bersama bayangan matahari yang hilang. Namun itu tak mungkin. Nyatanya ia masih di sini. Bersama Kai yang tengah menatap wajahnya serius.
            “Aku harus pergi, Kai.” Ujarnya pada akhirnya. Tak mungkin menyembunyikannya dari Kai.
            “Bukankah kau berjanji untuk menemaniku?” tuntut Kai.
            “Ya. Tapi sekarang itu tak mungkin lagi.”
            “Kenapa, Reina?”
            Reina terdiam. Alangkah sulit menjelaskan pada Kai. Bahwa kini semua tak lagi sama.
            “Aku akan kembali ke asalku.” Reina menundukkan kepala.
            “Asalmu di sini, Reina.” Mata tajam Kai menuntut.
            “Sebagian.” Reina mengangkat kepala. Tatapnya jatuh ke batas laut yang kini tampak gelap. “Sebagian lagi berasal dari balik samudra itu.”
            “Kau tak mengenal mereka, Reina. Dan mereka tak mengenalmu. Kau, hanyalah....” Kai terdiam. Tak mampu melanjutkan kalimatnya.
            Reina tersenyum sendu. Ia mafhum apa yang ada di balik kepala lelaki yang dicintainya ini. Seperti ia mafhum akan anggapan seluruh warga Desa Kwatisore tentang dirinya.
            Reina menghirup udara memenuhi rongga dadanya yang terasa sesak. Samar-samar ia mencium aroma tajam yang menguar dari tubuh Kai. Betapa ingin ia memeluk tubuh perkasa  dan membenamkan kepalanya pada dada bidang yang teduh itu. Tapi ia tak bisa, tak akan pernah bisa. Dan Kai sungguh tahu itu.
            Bintang-bintang bermunculan di atas langit malam Teluk Cendrawasih. Kai tak mampu banyak bicara. Reina adalah jiwanya. Sejak belia ia mengenal Reina yang unik. Lain dari yang lain. Reina yang pemalu dan selalu menemuinya diam-diam.
            Tak perlu diragukan lagi, Kai mencintai Reina seperti ia mencintai bulir pasir putih di tepi pantai.Ia menggilai Reina seperti ia tergila-gila pada kehangatan matahari Papua. Tak ada yang bisa menggantikan Reina. Ia adalah satu dari sekian sebab yang memantik semangat hidup Kai.
            “Tapi, rumah ini kubangun untukmu, Reina.” Kai berbisik sendu.
            “Aku tahu...”
            “Kita akan bersama. Siang dan malam. Melewati hari-hari. Menghirup udara yang sama, bermandi sinar matahari yang sama.” Bujuk Kai.
            Reina tergugu.
            “Maafkan aku, Kai. Kau tahu sendiri. Bagaimana anggapan penduduk desa tentang diriku. Mereka tak pernah menyukai aku.”
            “Tapi aku menyukaimu.” Jawaban itu menghangatkan hati Reina. “ Selalu.”
            “Tapi kau adalah bagian dari mereka. Kelak kau pun akan seperti mereka.”
            “Tak akan pernah.” Desis Kai marah.
            Reina tersenyum lembut. “Kuharap demikian, Kai.”
            *
            Rombongan lelaki berkulit gelap dan berambut ikal beramai-ramai menuju pantai. Dengung suara membangunkan Kai dari tidurnya yang gelisah. Sejak semalam ia tertidur di pondok  yang dibangunnya di atas sebatang pohon yang menjorok ke laut. Sinar matahari pagi tajam menerpa wajahnya.
            Bergegas Kai berlari menuruni tangga pondoknya, ketika melihat rombongan itu membawa peralatan berburu. Batang-batang tombak panjang berkilauan dalam genggaman para pemuda berbadan tegap  itu seolah mengiris hatinya. Ia tahu apa yang akan mereka lakukan. Namun kali ini ia harus menghentikan mereka.
            “Uuuuuup.... uuuup....uuuuuppp!” teriak Kai. Ia menggenggam lengan tetua adat. Bola matanya memohon. Mulutnya menjelaskan banyak hal. Namun tak pernah ada yang bisa memahami. Termasuk tetua adat yang tak lain ayah kandungnya sendiri.
            Lelaki berwajah kukuh itu menatapnya tajam. Wajahnya adalah gumpalan kekecewaan. Pandangan matanya adalah pancaran kekalahan yang tak pernah bisa ia sembunyikan.
 Kai, merupakan satu-satunya anak lelaki yang dimilikinya. Dari seluruh anaknya yang berjumlah sebelas, hanya Kai-lah yang berjenis kelamin sama dengannya. Pada Kai, ia meletakkan seluruh harapannya. Harapan yang sirna ketika ia menyadari tak sepatah katapun yang keluar dari bibir Kai mampu dimengertinya.
Baginya ini adalah aib. Aib yang tak bisa dihapus bahkan oleh sikap tak pedulinya. Sejak menyadari Kai berbeda. Tak bisa mendengar suaranya dan tak bisa dimerngerti, dinding tebal tercipta di antara mereka. Baginya, Kai telah mati. Bersama matinya harapan besarnya tentang seorang anak lelaki perkasa penerus kepemimpinannya.
Tetua adat menepis tangan Kai. Ia meneruskan langkahnya memimpin rombongan lelaki berwajah bara. Kaum yang menyiratkan kemarahan pada sesuatu yang dianggap pengganggu dan merugikan kehidupan mereka. Dan Kai tahu tujuan mereka.
Teriakan perang bersahut-sahutan. Wajah-wajah garang bersemangat berlari menyambut ombak yang memecah pantai. Kai tidak bisa mendengar jelas. Namun, gempita yang memantul-mantul di dinding gendang telinganya membuatnya resah. Perahu-perahu dilepas. Teriakan-teriakan membahana.
Kai berteriak-teriak, memohon untuk berhenti. Tak seorangpun mendengarnya. Kai berlari menaiki tangga pondoknya. Hatinya cemas menatap tengah lautan biru. Reina masih di sana.
“Gurano Babintang! Di sana...!” Para pemuda bertombak berenang membelah laut. Mereka bergantian menyelami lautan biru. Perahu-perahu terombang-ambing serupa kertas di tengah lautan.
 Tiba-tiba pekik kemenangan memenuhi angkasa. Teluk Cendarawasih memerah. Seekor hiu paus bersimbah darah. “Hantu” yang mengganggu ketentraman dan menghabiskan ikan-ikan kecil di perairan itu kini telah berkurang satu.
 Di tengah lautan kawanan  raksasa laut itu bergerak gelisah. Gelombang tak lagi menentramkan. Masyarakat yang terganggu sebab tubuh raksasa ikan-ikan itu  kerap merusak jaring-jaring mereka. Dan kini mereka tak mau lagi diam. Mereka mengusir dan melukai, Gurano Babintang yang terperangkap jaring.
Salah satunya adalah Reina.
**
Kai masih duduk di serambi pondok.  Ombak masih setia memecah pantai di bawah kakinya. Namun iramanya tak lagi sama. Kekosongan memantul-mantul di hati Kai.   Tatapnya membeku ke tengah samudra yang diam. Samudra yang menjadi saksi kedekatan mereka.
Kai teringat.
 Kai kecil selalu berlari ke laut setiapkali hatinya merasa gundah dan sedih. Kekecewaan ayahnya yang tak pernah surut, hanya mampu ia atasi dengan melarutkan amarahnya ke dalam lautan.  Di sanalah ia menemukan makhluk itu. Makhluk paling cantik dalam pandangan Kai cilik.
Mengetahui anggapan penduduk desa yang menyebut raksasa laut itu sebagai pengganggu membuat Kai merasa senasib. Meskipun penduduk desa selalu menjauhi dan takut bersentuhan dengan hiu paus itu, tapi menurut Kai, mereka makhluk yang lembut dan baik hati.
Salah satu di antara kumpulan ikan raksasa itu ia beri nama, Reina. Gurano Babintang muda yang selalu menghampirinya setiapkali ia menyelam ke laut. Seperti Kai mengenali Reina, Reina pun memahami kekurangan Kai.
Mereka tumbuh bersama di tengah samudra. Kecintaan Kai pada Reina seiring dengan meningkatnya pemahamannya tentang pentingnya keberadaan Reina dan kawan-kawannya bagi kelestarian lingkungan. Sekalipun Kai tak mampu mendengar, kecerdasannya mampu melihat dampak baik yang diperoleh lautan dari kebiasaan raksasa-raksasa itu menyaring air laut yang masuk melalui mulut lebarnya.
Kai ingin penduduk desa mengerti. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Cacat yang disandangnya membuatnya tak mampu berbuat banyak. Hanya satu yang bisa dilakukannya. Membangun sebuah rumah.
Rumah pohon yang dibangun sebagai tanda cintanya. Salah satu dari keinginannya yang tak bisa ia ungkapkan pada pada penduduk desa, pun pada ayahnya. Yaitu,  hidup berdampingan dengan Reina.
***
Senja merambat pelan dan muram. Jingga menyemburat dari tepi langit sesaat sebelum terbenam. Kai masih membeku. Separuh nyawanya terbang bersama Reina, Gurano Babintang  yang tertombak lengan perkasa penduduk Kwatisore.
Selesai.




14 komentar:

  1. Persahabatan manusia dengan hiu tutul, jadi teringat first novelku Mbak. Menari Bersama Hiu. :) (Y)

    BalasHapus
  2. Mbak Wahyuti, Gurano Babintang? Kebetulan yang menyenangkan.
    Saya terinspirasi dari leasure Republika tentang Hiu Tutul yang ramah itu. Begitu juga dengan rumah pohonnya.
    Indonesia memang eksotis yaa.
    Trims sudah berkenan mampir

    BalasHapus
  3. Terimakasih Bu Een atas kunjungannya :)

    BalasHapus
  4. sangat sangat sangat suka ...
    alur, ending, dan muatan sastranya ... he he he ... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAtur nuhun, Hendra...
      Untuk kunjungan dan sukanya.. hehehe

      Hapus
  5. Balasan
    1. hehehe.... makasih udah mampir ya Mbak Diah

      Hapus
  6. Sedih :( kabarnya hiu paus ini jenis ikan yang menelan Nabi Yunus ya. Wallahualam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain tadinya ikan paus itu hanya ada 1 jenis. Ternyata banyak juga yaa

      Hapus
  7. Saya sudah pernah baca cerpen ini di Majalah Femina versi cetak.
    keren, Mbak Liza, dengan sudut pandang bercerita dari Rena si Gurano babintang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang namanya ide ya. Kadang kalo mentok, mengubah sudut pandang bisa jadi alternatif yang mengejutkan yaa

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^