Rabu, 11 Maret 2015

Berpikir Positif : Allah Maha Kaya

Menjalani hidup merupakan perjuangan tiada henti. Kita akan senantiasa berhadapan dengan gelombang dan badai masalah yang datang silih berganti. Ada kalanya kita bisa begitu tangguh, namun seringkali kita pun runtuh.

Hanya dengan menggenggam keyakinan, senantiasa berpikir positif, kita akan melewati rintangan demi rintangan. Kemustahilan demi kemustahilan. Tersebab, Allah Maha Kaya....








BUKANKAH ALLAH MAHA KAYA?
Oleh : Liza P Arjanto


            Siang itu begitu terik. Mamaku mengupaskan buah-buahan untuk cucunya. Seperti biasa, dalam setiap kunjungannya, kami kerap berbincang ringan. Membahas berbagai persoalan yang tak ada habisnya untuk diperbincangkan. Ada saja yang bisa kami bahas. Dari hal-hal penting sampai persoalan yang sama sekali tidak penting, namun tentu saja itu cukup menarik untuk dibicarakan. Aku selalu menyukai kegiatan itu, sepertinya, mamaku pun demikian.  
Tiba-tiba saja mama mengalihkan topik pembicaraan.
            “ Mama mau naik haji.” Ujarnya mengagetkanku. Aku tertegun. Kutatap wajah sederhana itu dengan perasaan campur aduk. Sebenarnya, ini kali kesekian mama mengutarakan keinginannya. Tapi tak pernah seserius ini. 

 
            Dulu sekali, di masa awal pernikahannya, Mamaku sudah pernah melaksanakan ibadah haji. Ibadah yang diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu. Namun menurut Mama, ketika itu ia masih terlalu muda dan ia ingin mengulangi lagi ibadah hajinya.
            Sebagai anak yang baik, aku berusaha mengimbangi keinganan mama, meskipun hanya sebatas memberi suport berupa kata-kata. Ya, dalam hati aku beranggapan keinginan mamaku adalah hal yang mustahil. Terlebih mengingat mama adalah tipe orang yang terlalu angkuh untuk meminta, bahkan kepada anaknya sendiri. Tak urung aku pun bertanya dengan nada bergurau.
            “ Mama mau naik haji? Memang Mama sudah punya tabungan berapa?” tanyaku. Sesungguhnya, itu hanyalah pertanyaan basa-basi. Karena sepanjang pengetahuanku, mama tak pernah memiliki uang tunai dalam jumlah besar. Emas pun hanya beberapa gram yang kini melingkar di tangannya.
            “Mama hanya punya ini...” Mama menunjuk gelang di tangannya. Aku terkekeh geli. Mama tak tampak tersinggung. “Wah, kurangnya masih banyak, Ma. Gimana caranya Mama mengumpulkan uang untuk naik haji?” tanyaku. Aku tahu, mama pasti punya jawabannya.
            “ Mama mau bikin kue lebaran, nanti untungnya Mama belikan emas lagi. Nanti kalau sudah terkumpul cukup banyak , baru Mama jual untuk ongkos naik haji.” Suara mama terdengar optimis. Dan aku tak kuasa menahan tawa.
            “ Mama, itu masih bertahun-tahun lagi. Entah kapan Mama bisa berangkat naik haji kalau menunggu uang Mama cukup?”
             Dalam pikiranku yang sempit, alangkah mustahilnya seorang pembuat kue seperti mamaku, akan melaksanakan ibadah yang memerlukan biaya besar. Apa lagi hanya mengandalkan pesanan kue kering setahun sekali menjelang lebaran.
            Sepanjang umurku, aku tahu, mama amat mengandalkan kemampuannya membuat kue untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk biaya makan maupun pendidikan anak-anaknya. Namun dengan bertambahnya usia, pekerjaan itu tak lagi dapat dilakukannya seperti dahulu. Ia tak sanggup lagi mengeluarkan banyak tenaga untuk membuat kue-kue pesanan. Fisiknya melemah seiring bertambahnya usia dan berbagai penyakit yang mulai menyerang.
            Baru-baru ini saja, mama menjalani operasi pengangkatan payudara, karena tumor yang bersarang di payudaranya itu sudah mencapai stadium lanjut dan harus segera diangkat. Dan pada saat yang bersamaan, mama juga terdeteksi memiliki penyakit jantung, darah tinggi, kolesterol dan diabet.
            Lantas, bagaimana mama bisa seyakin itu bisa mengumpulkan uang untuk ibadah  haji. Bagaimana mama bisa bercita-cita melihat Baitullah setelah semua penyakit yang bersarang di tubuhnya menuntut ia untuk lebih banyak berdiam diri? Bagaimana ia bisa menyimpan kerinduannya untuk mencium Hajar Aswad, untuk berdoa di Raudah dan menatap langit di atas padang Arafah, sedang kemampuannya amat terbatas?
            Mamaku, yang kukenal jarang memiliki keinginan, nyatanya bersikukuh dengan keinginannya yang satu ini. Ia bersikeras untuk mengumpulkan ongkos naik haji hanya dengan membuat kue kering.
            “ Tapi, Ma... Mama sudah tua. Dan kondisi Mama tidak akan kuat bila harus mengerjakan pesanan kue kering lagi.” Ujarku mencoba membuat mama mengerti situasi yang dihadapinya. Mama tersenyum.
            “ Membuat kuenya pelan-pelan saja. Jangan sekaligus. Pasti Mama bisa.” Mama berusaha meyakinkanku.
            “ Dan itu butuh waktu lama...”
            Mama menarik napas. “ Bukankah Allah Maha Kaya? Mengapa harus bingung? Jangankan bertahun-tahun yang akan datang. Rezeki esok hari pun kita tidak akan pernah tahu.”
            Aku tersentak mendengar ucapan mama. Aku tahu itu, batinku. Tapi keraguan meliputi hatiku. Aku membutuhkan jawaban logis atas semua yang terjadi. Aku memerlukan kalkulasi dan perhitungan yang masuk akal untuk menggenapkan keinginan. Bukankah, hal itu manusiawi?
            Aku beranjak ke dapur dan menuang air untuk membasahi tenggorokanku yang terasa kering. Tiba-tiba saja, kudengar telpon selularku berbunyi. Dari kakak sulungku. Dan berita yang dikabarkannya adalah berita yang membuat aku insyaf akan kebenaran ucapan mamaku. Kakak sulungku mengabarkan, ia baru saja mendapat rezeki.  Dan ia mengatakan uang tersebut sudah ditransfer untuk ongkos naik haji mama.
            Allahu Akbar.
            Belum lima menit berlalu. Belum sempat air dingin dalam gelas yang menempel di bibirku, melewati tenggorokanku yang mengering, kulihat wajah mama bercahaya. Kemudian wajah itu bersujud penuh rasa syukur dan haru.
            Ketika mengangkat wajahnya. Mama memandangku penuh kemenangan bercampur haru yang sukar dilukiskan. Suaranya bergetar, “ Apa kata Mama tadi, bukankah Allah Maha Kaya?”
            Aku hanya bisa terdiam. Beristighfar dalam hati, menyadari kekhilafanku. Menyadari kelemahan dan ketidakyakinanku akan Kekuasaan Zat yang menggenggam nyawaku. Mama benar, bukankah Allah Maha Kaya dan Dia memberi rezeki tanpa disangka-sangka pada setiap hambaNya yang yakin. Sesuai dengan prasangka hamba kepadaNya.
 Selang dua tahun kemudian, pada waktu yang kira-kira sama, Mamaku tengah menatap langit di atas tanah yang diberkahi. Memanjatkan do’a untuk kebaikan seluruh anak dan cucunya. Memasrahkan diri pada Allah Swt,  Sebaik-baiknya Zat tempat berlindung.
 Tamat




           
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^