Rabu, 25 Juni 2014

Membangun Kerjasama Anak, Meraih Impian Yang Tertunda



            Sebagai ibu rumah tangga yang berkutat dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya, kerap menimbulkan kejenuhan bagiku. Sering aku merasa dikejar-kejar 'deadline', misal : setrika baju seragam bapak, memasak untuk sarapan, menjemur popok, dsb. Dua puluh empat jam sehari kadangkala terasa kurang untuk menyelesaikan semua PR itu.Rasa-rasanya hidupku hanya habis untuk urusan domestik dan tidak menyisakan sedikit waktu pun bagiku untuk mengembangkan potensi diri. Pun sekadar merehatkan tubuhku yang letih.

            Kehadiran enam orang buah hati, dengan rentang usia yang berbeda (dua orang ABG, dua usia SD dan dua balita) juga menimbulkan persoalan tersendiri. Di samping biaya yang harus dikeluarkan lumayan besar, juga memerlukan keterampilan lebih. Bukan saja menyiapkan kebutuhan fisik mereka, melainkan juga memperhatikan kebutuhan mereka akan kasih sayang, perhatian juga pengetahuan mengenai berbagai hal.

          Namun aku percaya, tidak ada hal yang sulit di dunia ini, melainkan ada kemudahan yang menyertainya. Begitu pun dengan kehidupanku. Aku percaya, banyaknya anak yang dititipkan Tuhan melalui rahimku adalah anugrah yang tak boleh kuingkari.

           Aku ingin mematahkan anggapan sementara orang yang beranggapan memiliki anak banyak tak ubahnya memasuki penjara yang  mematikan produktivitas, kreativitas bahkan identitas diri seorang ibu. Benarkah?

          Pekerjaan domestik yang selalu memenuhi agenda setiap ibu rumahtangga memang tak bisa diabaikan. Mempekerjakan tenaga seorang asisten rumahtangga pun, bukanlah hal yang mudah. Terutama bagi kita yang berdomisili di kota besar dengan penghasilan yang tak berlebih. Satu-satunya cara adalah dengan memberdayakan seluruh anggota keluarga. 

       Membangun sebuah kerjasama yang melibatkan seluruh anggota keluarga, terkecuali dua anggota terkecil yang masih balita. Ini pun memerlukan keterampilan, agar mereka memiliki kesadaran dan komitmen untuk menciptakan keluarga yang harmonis.

        Tidak mudah pada mula. Anak-anak memprotes kerja-kerja domestik (semisal: cuci piring, membersihkan lantai, menyapu halaman, membuang sampah, dsb.) yang dibebankan pada mereka. Mereka membandingkan dengan teman-teman mereka yang bebas melakukan aktivitas tanpa harus melakukan pekerjaan rumah tangga terlebih dahulu.  Bahkan mereka pun saling iri melihat saudara-saudaranya yang kelihatannya sedang tidak membantu atau mendapat porsi yang lebih ringan. 

           Aku kembali harus menjelaskan mengapa mereka harus melakukan sejumlah hal, mengerjakan banyak hal sementara yang lain tidak. Aku pun mengadakan kompromi dengan sejumlah kerja-kerja rutin. Mengajukan tawar-menawar kerja yang menjadi tanggung jawab anggota keluarga. Memotivasi dan membangkitkan kesadaran mereka secara berkesinambungan.

         Hingga akhirnya beban kerjaku berkurang secara konstan. Aku tak lagi dijebak kerja-kerja rutin yang menguras seluruh potensiku. Aku mulai membangun lagi impian yang lama kupendam.
Anak-anakku mendukung sepenuh hati. Mereka tak keberatan lagi melakukan berbagai hal  sesuai dengan kewajiban mereka, bila itu artinya, ibu bisa mengembangkan diri. Mereka tidak saja mengurai penatku, tapi juga membantuku merajut mimpi. Mimpi menjadi seorang penulis.

        Alhamdulillah, kerjasama yang terbentuk, meskipun tak jarang terkena badai kejenuhan dan erosi rasa iri di antara anak-anak, pada akhirnya memampukan aku untuk berani melangkah lebih maju menuju impian. Pencapaian-pencapaian yang dulu terlihat mustahil, kini secara pelahan dan pasti menemukan bentuknya.
      Tidak kesuksesan yang bisa dibangun seorang diri, maka, dengan kesadaran penuh, aku memberikan penghargaan khususnya pada anak-anakku, suamiku serta teman-teman yang tergabung komunitas menulis IIDN, sebagai tim sukses bagi pencapaian yang telah dan akan kuraih kelak. Tanpa mereka semua, aku hanyalah seoranng IRT yang tak berani ,pun, sekadar  bermimpi.

2 komentar:

  1. Susah memang membangun kerjasama kaya' gini. Makanya harus ditanamkan sejak dini agar mereka terbiasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul...
      Saya sering dinasehati ibu-ibu tetangga mamaku, katanya, jangan mau repot sendiri. Suruh anak-anak bekerja ini-itu sejak kecil. Supaya nanti besar biasa membantu. Gitu kata mereka Mbak Anisa :)
      hehehe kebeneran kaaan?

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^